“Marketing is Perception”
Persepsi yang dimaksud adalah persepsi pelanggan terutama pelanggan korporasi terhadap penyelenggara layanan telekomunikasi. Untuk meningkatkan persepsi pelanggan terhadap TELKOM di tengah gencarnya aksi kompetitor, perlu diwujudkan upaya Winning The Customer Mind Share melalui langkah yang strategik, taktis dan operasional yang sinergis.
Selanjutnya ada beberapa langkah strategik yang perlu ditempuh untuk membentuk persepsi pelanggan. Pertama adalah implementasi strategi Enterprise Winning Way. Strategi ini diterapkan di DIVES dan dikenal dengan nama Magnificent-7 (M7) yang memiliki 4 Key Success, 8 Key Initiatives dan 16 Program Utama dengan Siprit “Together Nothing Impossible”. Kedua adalah penerapan Customer Centric yang diwujudkan melalui transformasi organisasi di lingkunan DITEWS, tujuannya adalah untuk lebih memfokuskan aktivitas pengelolaan pelanggan korporasi.
Selain langkah strategik dalam Winning The Customer Mind Share juga ditempuh langkah taktis melalui implementasi branding TELKOM Solution Business Partner. TELKOM memposisikan diri sebagai mitra/partner bagi pelanggan dalam meningkatkan bisnisnya melalui berbagai solusi strategis yang ditawarkan. Langkah strategik lainnya adalah Winning on Bidding. Dari 80 proposal tender yang ditawarkan kepada pelanggan, 100% dimenangkan oleh TELKOM. Dalam hal ini sangat sulit bagi kompetitor untuk mengalahkan TELKOM kecuali jika terjadi kesalahan yang dilakukan TELKOM. Selain itu perlu pula adanya Implementasi Incentive Winning Team berupa pemberian insentif kepada team yang telah memenangkan bidding dalam skala besar. Hal ini adalah sesuatu yang wajar di dunia marketing atau sales dan menjadi pelengkap langkah strategik lainnya.
Beberapa langkah Winning The Customer Mind Share di level operasional, berupa Integrated Marketing Communication di High End Market. Dengan menjadikan TELKOM sebagai pusat perhatian di berbagai media melalui pemberitaan yang baik dapat meningkatkan persepsi positif pelanggan. Hal lainnya adalah penyelenggaraan C2Care dan TSH (TELKOM Solution House) yang merupakan upaya service plus bagi pelanggan korporasi. Hadirnya C2Care Car merupakan bentuk kepedulian TELKOM dalam melakukan mobile services dan diharapkan dapat meningkatkan image/tangibility TELKOM di mata pelanggannya. Sedangkan TELKOM Solution House di Lobby Gedung Chase Plaza Jl. Sudirman Kav.21 Jakarta, adalah langkah nyata dalam mewujudkan TELKOM Solution Business Partner.
First Media – An Overview
First Media meluncurkan layanan informasi bernama ‘3TriplePlay’. Hal ini terdiri dari Fastnet (akses internet broadband), Homecable (sambungan televisi kabel berlangganan) dan Datacomm (layanan data komunikasi untuk korporasi).
Fastnet menawarkan lima rentang kecepatan mulai 384 kbps hingga 3 Mbps. “Saat ini sudah ada 20 ribu pelanggan, “ kata Robert F. Feliciano, CEO PT First Media Tbk kepada pers pada Sabtu (8/9) lalu. Kini jaringan digital kabel serat optik First Media hanya mencakup Jakarta dan sekitarnya, Surabaya serta Denpasar. Dengan begitu permintaan berlangganan dilayani apabila belum ada jaringan kabel dalam lintasan tersebut.
“Saat ini jaringan kabel optik kita sudah mencapai lima ribu kilometer, “ ujar Harianda Noerlan, direktur PT First Media Tbk. Harianda memprediksi internet digunakan 20 juta orang di Indonesia. Namun dari angka itu hanya 2 juta berlangganan di rumah. Artinya, sebanyak 18 juta pengguna internet menjadi pasar potensial.
First Media memulai persaingan bisnis di era internet melalui jalur broadband dengan menghadirkan berbagai macam layanan namun mereka jelas-jelas menyatakan tidak akan bermain di jalur wireless.
Berkat bantuan dana suntikan dari Group Lippo sebesar USD650 juta, First Media merasa optimis mampu merajai pasar, khususnya dalam layanan internet broadband. “Pasarnya masih terbuka luas. Dari sekitar 18 juta pengguna internet hanya 2 juta yang jelas-jelas berlangganan, lainnya hanya berhasil menggunakan internet di kantor atau kafe yang menyediakan free access,” ujar Director First Media, Harianda Noerlan, saat peluncuran Triple Play First Media, di Kemang Village Jakarta, Sabtu (8/9/2007).
Hampir semua layanan First Media dilengkapi dengan bantuan koneksi fiber optik. Selain internet broadband juga terdapat home cable, TV kabel digital, dan komunikasi data. Hari juga mengatakan bahwa koneksi kabel optik akan terus menjadi kekuatan First Media. Bahkan, lanjutnya, perusahaan yang dulu bernama Broadband Multimedia ini tidak tertarik untuk bermain di pasar wireless walaupun era wimax akan datang sebentar lagi.
“Kami rasa wireless memiliki pasar sendiri dan itu bukan pasar kami. Biar perusahaan lain saja yang bermain di situ, kami akan tetap fokus di sini (fiber optik),” ujar Hari. Pernyataan ini juga diperkuat Hari dengan menyebut sebuah data survey yang pernah ia baca di sebuah media yang mengatakan bahwa inevstasi sebesar USD1,8 miliar akan mengucur ke koneksi kabel optik pada masa yang akan datang. Dana tersebut mayoritas akan berasal dari perusahaan internasional. “Ini merupakan bukti bahwa koneksi kabel malah akan lebih berkuasa di banding wireless,” tegas Hari. Sayangnya Hari tidak menyatakan secara jelas sumber survey dan media yang mengeluarkan pernyataan tersebut.
Lagipula, tambah Hari, koneksi kabel memiliki kualitas yang lebih terjamin dari wireless. “Bandingkan saja. Kualitas kabel pasti lebih terjamin dibanding wireless karena fiber optik lebih efisien, jaringannya lebih stabil karena tidak rentan gangguan cuaca dan tidak terpengaruh satelit,” tandasnya.
Untuk itu Hari mengharapkan pertumbuhan pelanggan First Media akan bertambah 15.000 setiap bulannya.
22 Tanda Perusahaan Bermasalah
1. Declining profitability
2. Declining net worth
3. Declining sales
4. Lack of Growth
5. Increasing Debt
6. Cash Flow Problems
7. Declining current assets to current liabilities ratio
8. Declining quick asset ratio
9. Increasing expense to sales ratio
10.Declining market share
11.Dividend cuts
12.Increasing inventories
13.Increasing product returns
14.Declining capital investment
15.Problems with banks & lenders
16.Problems with Auditors
17.Management Problems (mis. lack of planning & commitments)
18.Milking subsidiaries (high cash flow to main company)
19.Too many businesses started
20.Inattention to public relations
21.Increasing legal expenses
22.large-scale stock sale by insiders
Bakrie Telecom – MVNO
Meski sudah memiliki lisensi nasional, Bakrie Telecom tetap mengharapkan kerjasama dalam bentuk mobile virtual network operator (MVNO).
Hal itu diungkapkan Rakhmat Junaedi, Direktur Corporate Services Bakrie Telecom, saat dihubungi detikINET, Rabu (13/12/2006). “Itu (MVNO-red) kita akan membicarakan lagi dengan Indosat. Masalahnya bukan kita lisensi nasional, tapi soal penghematan investasi,” tutur Rakhmat.
Rakhmat mengatakan Bakrie juga masih membuka diri untuk kerjasama MVNO dengan pihak lain. “Kami masih open kok untuk mereka, juga untuk semua operator lainnya yang mau kerjasama MVNO,” ia menambahkan.
Bakrie mendapatkan lisensi nasional setelah pemerintah melakukan penataan ulang pada frekuensi 800 MHz, Selasa (12/12/2006). Sebelumnya sempat diisukan bahwa keinginan Bakrie kerjasama MVNO dengan Indosat adalah demi menikmati lisensi nasional.
Penataan ulang 800 MHz disahkan melalui Keputusan Menteri No. 181/KEP/M.KOMINFO/12/2006 tertanggal 12 Desember 2006. Dalam keputusan itu PT Bakrie Telecom memperoleh 3 kanal secara nasional, yaitu nomor kanal 37, 78 dan 119. Rakhmat mengatakan kanal tersebut tepatnya berada pada 825 Mhz.
Dalam KM tersebut pemerintah juga memberikan 3 kanal nasional pada PT Telkom (201, 242 dan 283), 4 kanal pada Mobile-8 Group (384, 425, 466 dan 507 untuk Komselindo, Metrosel dan Telesera), serta 2 kanal pada PT. Indosat (589 dan 630).
“Operator (yang mendapat lisensi nasional-red) dalam waktu maksimal 3 bulan setelah keputusan itu harus menyesuaikan izin penyelenggaraan, rencana pembangunan, dan penggunaan spektrum,” tutur Rakhmat.
Rakhmat mengatakan lisensi nasional ini berarti Bakrie bisa memperluas area Esia dan Wifone ke seluruh nusantara. Untuk tahap awal Bakrie akan menggeber layanan di kota-kota besar, namun Rakhmat belum bisa merinci.
Saat ini hingga pekan depan Bakrie menurut Rakhmat sedang menyiapkan rencana terkait lisensi nasional tersebut. Banyak hal yang menurut Rakhmat akan dikaji, termasuk belanja modal (Capital Expenditure/Capex), target pasar, tarif, dan program promosi.
Mem-BACA-kan Speedy
Speedy adalah salah satu produk unggulan Telkom yang diharapkan akan mampu mendongkrak revenue Telkom disisi layanan broadband. Sejak digelar sebagai suatu layanan pertengahan tahun 2005 yang lalu, Speedy telah dianggap suatu produk yang cukup sukses dipasaran. Namun dari segi target yang akan dicapai masih jauh dari sasaran, kondisi ini membutuhkan suatu analisa dalam strategi pemasaran dilihat dari segi pengembangan produk layanan Speedy sendiri sampai dengan langkah yang dapat ditempuh guna meningkatkan angka penjualan dari produk layanan Speedy ini. Disamping rencana penjualan, Telkom juga perlu untuk memikirkan strategi jangka panjang akan layanan Speedy ini, bagaimana produk ini akan melekat dimasyarakat dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat disamping dapat meningkatkan penetrasi broadband di Indonesia.
Dalam tulisan ini mengulas mengenai suatu konsep peluncuran layanan yang diharapkan akan mampu memberikan masukan untuk pemasaran Speedy. Konsep ini melihat pada beberapa parameter yang berdasarkan pada suatu konsep BACA – Branding, Awareness, Cost dan Availability, diharapkan akan mampu untuk meningkatkan value dari layanan Speedy ini sehingga dapat mendongkrak revenue bagi Telkom disamping meningkatkan citra perusahaan.
Marketing is Perception
Persepsi yang dimaksud adalah persepsi pelanggan terutama pelanggan korporasi terhadap penyelenggara layanan telekomunikasi. Untuk meningkatkan persepsi pelanggan terhadap TELKOM di tengah gencarnya aksi kompetitor, perlu diwujudkan upaya Winning The Customer Mind Share melalui langkah yang strategik, taktis dan operasional yang sinergis.
Langkah strategik yang perlu ditempuh untuk membentuk persepsi pelanggan antara lain:
- Pertama adalah implementasi strategi Enterprise Winning Way. Strategi ini diterapkan di DIVES dan dikenal dengan nama Magnificent-7 (M7) yang memiliki 4 Key Success, 8 Key Initiatives dan 16 Program Utama dengan Siprit “Together Nothing Impossible”.
- Kedua adalah penerapan Customer Centric yang diwujudkan melalui transformasi organisasi di lingkunan DITEWS, tujuannya adalah untuk lebih memfokuskan aktivitas pengelolaan pelanggan korporasi.
Selain langkah strategik dalam Winning The Customer Mind Share juga ditempuh langkah taktis melalui implementasi branding TELKOM Solution Business Partner. TELKOM memposisikan diri sebagai mitra/partner bagi pelanggan dalam meningkatkan bisnisnya melalui berbagai solusi strategis yang ditawarkan. Langkah strategik lainnya adalah Winning on Bidding. Dari 80 proposal tender yang ditawarkan kepada pelanggan, 100% dimenangkan oleh TELKOM. Dalam hal ini sangat sulit bagi kompetitor untuk mengalahkan TELKOM kecuali jika terjadi kesalahan yang dilakukan TELKOM. Selain itu perlu pula adanya Implementasi Incentive Winning Team berupa pemberian insentif kepada team yang telah memenangkan bidding dalam skala besar. Hal ini adalah sesuatu yang wajar di dunia marketing atau sales dan menjadi pelengkap langkah strategik lainnya.
Contoh dari beberapa langkah Winning The Customer Mind Share di level operasional, berupa Integrated Marketing Communication di High End Market. Dengan menjadikan TELKOM sebagai pusat perhatian di berbagai media melalui pemberitaan yang baik dapat meningkatkan persepsi positif pelanggan. Hal lainnya adalah penyelenggaraan C2Care dan TSH (TELKOM Solution House) yang merupakan upaya service plus bagi pelanggan korporasi. Hadirnya C2Care Car merupakan bentuk kepedulian TELKOM dalam melakukan mobile services dan diharapkan dapat meningkatkan image/tangibility TELKOM di mata pelanggannya. Sedangkan TELKOM Solution House di Lobby Gedung Chase Plaza Jl. Sudirman Kav.21 Jakarta, adalah langkah nyata dalam mewujudkan TELKOM Solution Business Partner.
-
Arsip
- Oktober 2008 (8)
- Maret 2008 (3)
- Januari 2008 (1)
- November 2007 (5)
- Oktober 2007 (3)
- September 2007 (18)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS