Henrisetiawan’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Agar Produk atau Jasa Anda Diingat Sepanjang Hayat

Dahulu, ketika kita memasarkan suatu produk atau jasa, maka kita cukup
 mengandalkan feature (karakteristik, sifat atau ciri-ciri) dan benefit
 (manfaat atau kegunaan) agar produk atau jasa kita bisa laku dan tetap
 dibeli oleh pelanggan kita. Tapi, sekarang  feature dan benefit saja
 terkadang kurang cukup agar kita tetap exist di pasar, karena ternyata
 para pesaing kita bisa meniru bahkan menyamai produk yang kita jual ke
 pasar. 

Lalu muncullah hal-hal yang intangible seperti pelayanan atau service
 agar feature dan benefit produk bisa hadir 'lebih bermakna' di benak
 customers. Itupun saat ini seringkali masih belum cukup juga, mengingat
 semakin hari tingkat kompetisi semakin severe dan kompleks. Lalu apa lagi
 yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan market
 share dan profitabilitas ?

Jawabannya adalah menyangkut customer's memory. Apakah produk atau jasa
 kita memorable (menciptakan kenangan yang indah) bagi customers kita ?
 Apakah produk atau jasa kita bisa lengket di heart (hati) & mind
 (pikiran) para customers. Dari situlah maka muncul istilah Experiential
 Marketing, yaitu suatu pendekatan pemasaran yang mengupayakan agar para
 customers memiliki suatu pengalaman yang tak terlupakan ketika akan,
 sedang atau telah membeli produk atau jasa kita. Caranya adalah dengan
 menyentuh sisi emosional customers lebih dalam lagi, bukan lagi sekedar sisi
 rasionalnya.

Bernd H. Schmitt, pakar pemasaran dan guru besar dari Columbia Business
 School, USA, dalam bukunya Experiential Marketing : How to Get
 Customers to Sense, Feel, Think, Act & Relate to Your Company and Brands,
 mengupas dengan sangat menarik apa dan bagaimana Experiential Marketing
 (EM) itu. 

Ia mengemukakan adanya 5 unsur penting dalam EM, yaitu sense, feel,
 think, act dan relate. Unsur-unsur ini perlu kita ketahui lebih detail
 agar kita bisa memilih dan memastikan unsur yang mana saja yang bisa kita
 terapkan ke produk atau jasa kita. Mungkin tidak semua unsur dapat
 diaplikasikan secara bersama-sama. Mungkin hanya satu atau dua unsur saja
 yang bisa kita pakai. Semuanya tergantung kepada jenis barang atau jasa
 Anda, struktur persaingan, segmen pasar yang dibidik dan sebagainya.

Unsur yang pertama, sense adalah bagaimana agar produk atau jasa kita
 bisa dirasakan oleh panca indra kita (mata, telinga, hidung, lidah dan
 kulit). Ini adalah unsur yang paling sederhana yang bisa diterapkan.
 Semakin banyak indra yang bisa merasakannya, maka semakin besar
 kemungkinan produk kita menjadi memorable. Mengapa ? Karena setiap orang memiliki
 preferensi yang berbeda dalam menyampaikan informasi ke otak lewat
 panca indra. Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming), dikenal ada orang
 yang bertipe visual (lebih peduli pada apa yang dilihat), auditory
 (lebih peduli pada apa yang didengar) dan kinestetik (lebih peduli pada apa
 yang mereka sentuh atau rasakan). Jadi, dengan melibatkan semakin
 banyak indra, maka semakin banyak orang yang bisa kita jangkau (untuk masuk
 ke memori mereka).

Apakah Anda pernah antri untuk membeli roti di Bread Talk atau donat
 J-Co ?  Lalu mengapa orang-orang rela ngantri hanya demi untuk sepotong
 roti ? Penyebabnya adalah karena mereka sukses menyampaikan pesan
 produknya ke otak Anda melalui beberapa indra yang terlibat. Pertama, dari
 jarak yang agak jauh Anda sudah membaui (dengan hidung) aroma roti yang
 'harum' dan mengundang Anda untuk mendekat. Semakin dekat semakin
 merangsang baunya. Setelah dekat, Anda bisa melihat dengan mata kepala Anda
 sendiri proses pembuatan roti (melalui kaca transparan) untuk menggugah
 Anda bahwa roti mereka fresh from the oven. Kemudian Anda masuk ke
 gerai mereka dan sebelum membeli-pun lidah Anda akan dibuat ngiler dengan
 berbagai bentuk roti yang di-display dengan sangat menarik. Satu lagi,
 bagi Anda yang kinestetik, barangkali tindakan mengantri, mengambil
 nampan, memilih roti, mengantri lagi dan membayar di kasir menciptakan
 sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Ini adalah sebuah proses emosional,
 karena secara logika koq mau-maunya Anda dikerjain oleh si Break Talk.

Unsur kedua, feel adalah bagaimana menciptakan perasaan enak (feel
 good) bagi para customers, yaitu dengan melibatkan mood dan emosi secara
 lebih intens lagi. Beberapa acara reality show di televisi seperti AFI,
 Indonesian Idol atau MamaMia adalah beberapa contoh produk yang sukses
 memanfaatkan emosi para penonton agar mereka terus mengingat dan
 menontonnya kembali. Sebagian dari Anda mungkin juga pernah mengirim SMS
 dukungan ke salah satu kontestan, padahal barangkali Anda tidak mengenal
 kontestan itu, hanya karena emosi Anda bangkit dan menggerakkan Anda untuk
 melakukan sesuatu.

Unsur ketiga, think adalah upaya yang perlu diciptakan agar customer
 mau ber-positive thinking kepada produk atau jasa Anda setelah customer
 Anda merasa baik (feel good). Ini dapat menciptakan customer
 satisfaction yang lebih berjangka panjang.  Dengan demikian diharapkan akan timbul
 word of mouth (promosi dari mulut ke mulut) yang baik bagi produk
 Anda. Kampanye iklan Apple Computer 'think different' adalah contoh iklan
 untuk menggugah orang agar mau 'positive thinking' kepada produk Apple.

Unsur keempat, act adalah upaya yang diarahkan bagi terciptanya
 pengalaman melalui perilaku tertentu dari customers, baik berupa tindakan
 individual maupun gaya hidup seseorang. Tindakan yang diambil seseorang
 dipengaruhi oleh faktor luar dan opini di dalam dirinya. Tugas Anda
 sebagai experiential marketer adalah menggabungkan pengaruh eksternal dengan
 feel dan think agar customer melakukan tindakan dan punya pengalaman
 tersendiri. Iklan Oreo di televisi 'diputar, dijilat dan dicelupkan'
 barangkali merupakan upaya agar calon customer selalu terkenang dengan Oreo
 dengan tindakan 'diputar, dijilat dan dicelupkan' tadi. Contoh lain,
 kalau Anda pernah ke Jogja, cobalah mampir ke Bakmi Mbah Mo (lho koq
 malah promosi he.he.). Dengan datang kesana, maka Anda akan memiliki
 pengalaman yang tak terlupakan karena tindakan Anda yang telah berjuang
 masuk ke pelosok terpencil di daerah Bantul sana, mungkin lebih dari 10 KM
 dari Jogja, masuk ke jalan tak beraspal lagi. Warungnya juga relatif
 sederhana, memasak mie pakai arang tapi koq tetap exist setelah puluhan
 tahun.

 Unsur yang terakhir adalah relate, yaitu bagaimana sensasi, feeling,
 thinking & action seseorang tadi, jauh diperbesar lagi ke arah konteks
 sosial dan budaya. Jadi relate menghubungkan customers secara individual
 dengan masyarakat atau budaya tertentu. Ini merupakan daya tarik yang
 paling dalam bagi customers Anda. McDonald dan juga Starbucks adalah dua
 perusahaan yang telah berhasil menerapkan unsur relate. Contoh lain,
 banyak orang memakai motor Harley Davidson, bukan karena kualitas
 motornya yang bagus melainkan karena HD sudah menggambarkan gaya hidup
 tententu bagi pemakainya apalagi dengan adanya komunitas HDCI yang cukup
 fanatik dengan segala atribut HD-nya, termasuk juga kegiatan-kegiatan
 sosial yang dilakukannya.

Itulah sekilas tentang 5 unsur EM ala Bernd H. Schmitt. Anda perlu
 mulai memikirkan jenis yang mana dari kelima jenis pengalaman (experiences)
 diatas yang bisa diaplikasikan untuk produk atau jasa Anda. Harapannya
 adalah agar customers Anda selalu ingat, mau kembali lagi dan tidak
 pindah ke lain hati. 

Jadi, sudah saatnya untuk menawarkan suatu pengalaman yang tak
 terlupakan bagi customers Anda, sesuatu yang  memorable, sesuatu yang bakal
 diingat pelanggan Anda sepanjang hayatnya. Tapi ingat ! Jangan sekali-kali
 melupakan feature, benefit dan intangible. Karena ketiganya juga
 merupakan prasyarat agar produk atau jasa Anda benar-benar bisa disebut
 berkualitas. Wish You Luck

November 22, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Tidak terkategori | | Belum Ada Tanggapan

4 hal agar TELKOM tetap di hati Masyarakat

Dalam pemerataan kepentingan sosial di bangsa ini, bukan hanya pemerintah saja tetapi didukung oleh perusahaan-perusahaan lain. Salah satunya adalah TELKOM dimana terdapat 4 hal yang perlu diketahui mengapa TELKOM harus ada di Masyarakat. Pertama, TELKOM merupakan perusahaan BUMN yang masih Indonesia. Luasnya NKRI membuat TELKOM menyadari bahwa masyarakat perlu mendapatkan hak fasilitas yang sama. Pertanyaannya “apakah manajemen TELKOM ini sangat committed dengan apa yang pernah dicanangkan”. Kedua, Adanya pemerataan fasilitas Speedy, maka secara teknologi informasi semua informasi mengenai segala aspek dapat didapat dengan mudah dan cepat. Dan apabila ini dapat terjadi maka kesenjangan antara Pusat dan daerah yang selama ini telah menjadi diskusi dapat diminimasi.

Ke-Tiga, teknologi internet merupakan 2 mata panah yang berbeda ada sisi negatif dan positifnya terlebih penggunanya sebagaian besar para anak muda. Oleh sebab itu masih diperlukannya bimbingan kepada pengguna internet agar fasilitas ini secara maksimal benar-benar dapat dipetik manfaatnya. Karena secangih apapun tehnologi pasti punya efek samping yang positif maupun negatipe. Tetapi efek positip yang banyak memberi manfaat yang besar bagi kemajuan bangsa, mari kita pikirkan bersama. Ke-Empat, TELKOM bukan hanya memikirkan prospek bisnis saja, tetapi membantu masyarkat yang tertimpa musibah adalah salah satu bentuk program TELKOM melalui CDC baik dari Korporate maupun Divre.

Dalam kancah persaingan bisnis, TELKOM tetap mementingkan hal penting bagi kepentingan masyarakat, harapan kami dengan kehadiran produk TELKOM ini tentu-nya tidak saja mendapat sambautan baik, tetapi dengan nasionalisme yang ditunjukan dan merupakan kebanggaan kita untuk selalu mengunakan produk yang dimiliki oleh perusahaan bangsa kita sendiri.

November 20, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Tidak terkategori | | Belum Ada Tanggapan

Becoming Blessed CEO

Sukses perusahaan tak hanya diukur berdasar kinerja intelektual dan emosional, tetapi juga spiritual. Itulah ciri perusahaan yang diberkati. Bagaimana cara menjadi perusahaan seperti itu? Bagaimana menjadi CEO yang penuh berkah?

Dalam bukunya Built to Bless (2007), Paulus Bambang W.S. melihat William Soeryadjaya adalah salah satu contoh pemimpin yang berhasil menerapkan konsep built to bless di perusahaannya. Paulus, kini wakil presdir PT United Tractors Tbk., melihat, dalam berbisnis, Om Willem tidak memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi selalu berorientasi pada penciptaan lapangan kerja. Om Willem juga menekankan pentingnya bekerja dengan jujur dan rendah hati, memperhatikan kesejahteraan karyawan, dan selalu berterima kasih kepada Tuhan. Paulus melihat nilai-nilai itu kini dipegang oleh seluruh lapisan manajemen Astra.

 

Paulus juga melihat Om Willem tak asal bicara. Apa yang ia ajarkan, itu dia lakukan. Bukti paling tegas adalah tatkala si Om harus melepas seluruh sahamnya di Astra agar bisa melunasi utang keluarganya. Om Willem berprinsip utang harus dibayar?walau untuk itu dia harus turun derajat. ?Prinsip ini akhirnya menjadi brand Astra,? tulis Paulus. Astra kemudian dikenal sebagai perusahaan yang tak akan lari dari kewajibannya, tidak akan merusak lingkungan, dan tak akan menghancurkan UKM demi memperbesar diri sendiri.   

Built to Bless

Menurut Paulus, konsep built to bless menarik untuk dipelajari dan diterapkan para pemimpin perusahaan. ?Perusahaan yang built to bless sudah menyentuh sisi spiritual yang bersumber kepada Tuhan dalam perilaku bisnisnya. Banyak fenomena menunjukkan spiritualitas, sebagai kata manajemen sekuler untuk kata Tuhan, dapat mendorong kesuksesan perusahaan,? ujarnya. Banyak pemimpin perusahaan yang dulu dianggap puritan karena mencampurbaurkan prinsip agama dan bisnis, kini memperoleh sorotan karena berhasil memimpin perusahaannya mencapai kinerja yang demikian tinggi dengan memperhatikan aspek spiritual. Di antara mereka adalah C. William Pollard (mantan chairman The ServiceMaster Company), S. Truett Cathy (pendiri Chick-fil-A Company), dan W.C. Meloon (pendiri Correct Craft Inc.)

Merujuk konsep built to bless , kesuksesan perusahaan tak hanya diukur dari capaian prestasi keuangan dan pencapaian perusahaan mengembangkan budaya yang sangat kuat, tetapi juga bagaimana menjadi perusahaan yang penuh berkat ( a built to bless company ). Kesuksesan menyeluruh sebuah perusahaan bisa dilihat dari tiga indikator, yaitu:

1.     Kinerja intelektual berdasar angka ( good to great company )

2.     Kinerja emosional berdasar nilai ( built to last company ), dan

3.     Kinerja spiritual  berdasar keyakinan atau belief ( built to bless company )

Paulus mengungkapkan, hingga kini, masih banyak orang yang berpandangan bahwa ke-Tuhan-an dan aktivitas bisnis adalah dua hal yang terpisah. Tuhan adalah masalah surgawi, bisnis masalah duniawi. Tuhan sumber kesucian, bisnis sumber kekotoran, penuh tipu daya dan tipu muslihat. Tuhan Maha Pasti, sedangkan bisnis penuh ketidakpastian. Tuhan menekankan persaudaraan dan persahabatan, sementara bisnis memupuk rasa persaingan. Tuhan ingin kejujuran dan keadilan, bisnis justru banyak menumbuhkan sikap manipulasi dan ketidakadilan. Jadi, sifat bisnis dianggap bertentangan dengan sifat Tuhan. ?Mereka menganggap kalau bisnis dikelola dengan prinsip ke-Tuhan-an, pasti mati,? papar Paulus.

Namun, ungkap Paulus, kini menguat pandangan yang meyakini bahwa bisnis dan ke-Tuhan-an harus sejalan seirama. Manusia yang ber-Tuhan tak mungkin menjalankan bisnis yang menentang prinsip-prinsip ke-Tuhan-an. Maka, bermunculan diskusi etika berbisnis dalam kerangka spiritual, seperti menghindari dosa sosial, korupsi, suap, dan pembukuan ganda. Pengertian baik-buruk dan benar-salah dalam penerapan prinsip Good Corporate Governance bergerak lebih jauh lagi ke prinsip baru: God Corporate Governance .  perusahaan tak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham ( shareholders ) dan pemangku kepentingan ( stakeholders ), tetapi juga kepada Tuhan ( soulholder ).

Penerapan Built to Bless
Lantas, bisakah konsep built to bless diterapkan? Dapatkah mereka memadukan kepentingan usaha dengan kepentingan spiritual? Mampukah mereka mencari keuntungan sekaligus beribadah? Bagaimana caranya mencari keuntungan yang diberkati Tuhan? Lalu, pada gilirannya, mencuat pertanyaan, bagaimana menjadi seorang CEO yang penuh berkah?

Perusahaan tidak boleh kompromi jika ada karyawannya yang menyimpang dari nilai-nilai perusahaan?walau dia cerdas, berprestasi, dan dibutuhkan perusahaan. Langkah kompromi justru memberikan sinyal yang keliru bagi karyawan lain. Dalam jangka pendek memang merugikan, tetapi jangka panjangnya lebih besar manfaatnya.  

Perusahaan setiap saat harus terus mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan kepada seluruh karyawan mengingat godaan-godaan untuk menyimpang muncul setiap saat. Paling cepat, butuh waktu 4?5 tahun untuk mengubah perusahaan yang tadinya tidak terkontrol menjadi tertib.  

Untuk menjadi pemimpin perusahaan yang diberkati, mulailah dengan hal-hal sederhana. Misalnya, sebagai pemimpin, ia harus menunjukkan pula perhatian besar perusahaan kepada karyawan, seperti gaji sesuai dengan kelasnya, tak boleh telat, dan memberikan penghargaan atau pengakuan kepada karyawan yang berprestasi.  

Filosofi ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Prinsip ?ILMU PADI ada kepanjangannya, yaitu Integritas, Loyalitas, Mandiri, Unggul, Profesional, Amanah, Disiplin, Ikhlas.  

Apabila integritas menjamin karyawan memiliki komitmen terhadap tujuan perusahaan dan berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan, maka loyalitas menuntut karyawan bekerja penuh bagi perusahaan dan tak diperbolehkan memiliki usaha sampingan. Mandiri bermakna karyawan setiap saat siap ditempatkan di mana saja, tanpa tergantung pada orang lain, dan unggul berarti setiap saat karyawan harus meningkatkan kapasitas.  

Kemudian, profesional adalah karyawan bisa membedakan kepentingan perusahaan dengan kepentingan pribadi, amanah berarti karyawan patut menjaga kepercayaan, tidak boleh menyalahgunakan jabatan. ?Amanah itu pertanggungjawabannya di dunia dan akhirat. Disiplin , tambahnya, juga penting diterapkan karena ini bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan. ?Pekerjaan itu karunia Tuhan dan patut disyukuri karena tak semua orang mempunyai kesempatan kerja yang sama. Terakhir, ikhlas bermakna karyawan janganlah berpikir bahwa pekerjaan yang dilakukannya tidak dinilai Tuhan. ?Dengan bekerja lebih keras, sebenarnya ia juga sedang menabung berkat yang akan diberikan Tuhan.  

God Corporate Governance  

Menurut Paulus, untuk bisa menjadi pemimpin perusahaan yang diberkati, kepribadian seorang  bisa diubah menjadi kepribadian yang diberkati. Apa saja ciri-cirinya? Papar Paulus, ada tiga elemen pokok.  

1.     Pertama, memiliki landasan spiritual yang kuat dalam meletakkan norma, etika, nilai, dan budaya ( beyond the standard NORM ).

2.     Kedua, mengakui bahwa Tuhan adalah  utama.

Ketiga, menerapkan God (bukan Good ) Corporate Governance secara pribadi dalam pekerjaannya dan memberikan pengaruh yang benar kepada lingkungan sekitar dalam semua aspek kehidupan ( quality of life ).

Selain itu, tambah Paulus, seorang pemimpin yang penuh berkah setidaknya harus memiliki 10 pegangan keyakinan ( belief ) sebagai pegangan hidup pribadi, yaitu beriman, setia, jujur, rendah hati, tulus, cerdik, berwawasan ke depan, mampu melakukan langkah terobosan, memiliki semangat juang, dan berupaya menghasilkan kinerja akhir unggul. ?Sepuluh sifat ini tidak berdiri sendiri, tetapi terjalin kuat dan harus dibalut dalam kerangka besar yang mengayomi seluruh keyakinan hidup, yaitu kasih yang merupakan sumber kehidupan,? urai Paulus.  

Dalam bukunya yang berjudul The Celestial Management (2004), A. Riawan Amin, presdir PT Bank Muamalat Indonesia, juga mencoba memberikan panduan bagi para CEO dengan memberi sentuhan spiritual dalam pengelolaan usaha. Nilai-nilai spiritual yang relevan dengan kegiatan bisnis itu ia kemas dalam 12 atribut utama yang dirangkum dalam tiga kategori, yaitu ZIKR (Zero Base, Iman, Konsisten, Result Oriented),  PIKR (Power Sharing, Information Sharing, Knowledge Sharing, Rewards Sharing), dan MIKR (Militan, Intelek, Kompetitif dan Regeneratif).

November 20, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Management | | Belum Ada Tanggapan

Kekuatan Latheral Marketing

Dua minggu terakhir ini, saya keliling di Jakarta Pusat dan Batam, melihat kondisi pemasaran PSTN yang senantiasa turun. Satu hal yang mirip antara Jakarta Pusat dan Batam adalah Sales Force yang begitu semangat, bayangkan saja dengan gaji minimal, mereka bisa membawa revenue hampir 60% dari total sales. Kalau memang ditanggapi dengan baik, maka sales PSTN tidak akan turun sedrastis saat ini, namun karena kondisinya memang benar-benar parah, maka PSTN dianggap tidak lagi prospektif.

Kenapa saya mengatakan parah, saat sales melonjak akibat tingginya demand, sales yang begitu mudah diperoleh tetapi tidak ditindaklanjuti dengan after sales yang benar, artinya setiap sales tidak diikuti dengan pemberian barang secara tepat waktu, ada saja kendala yang dihadapi mulai dari keterbatasan alat produksi sampai dengan alasan keterbatasan SDM. Suatu alasan klasik yang sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi.

Latheral marketing merupakan sales yang telah dilakukan Telkom selama ini, namun sales yang terjadi tidak bisa diwujudkan menjadi revenue real. Dijaman yang serba cepat seperti saat ini, masih ada perusahaan yang tidak tahu harus berbuat apa karena produk-nya turun. Tidak ada salahnya untuk leading supply, karena customer butuh cepat dan yang paling penting kualitas layanan sendiri menjadi hal yang paling krusial.

First Media saja yang sekedar ganti baju dari Kabelvision, belum berubah secara pelayanan, namun dari segi performansi lebih  baik sekalipun yang dilakukan hanya sekedar mengganti CMTS, namun dampak ke masyarakat sangat besar, customer puas. Sedangkan dilihat dari segi kualitas, dengan dibukanya port-port akses, customer begitu haus untuk download memakan bandwidth yang menjadi media marketing First Media, namun ini hanya temporary, setelah customer terbius, apapun bisa dijadikan alasan.

Pelajaran demi pelajaran semakin banyak dan menarik untuk dipelajari, namun masalahnya adalah bagaimana bisa diterapkan diperusahaan Telkom ini. The question is not about how, but whom we need to influence.

November 20, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Warung Kopi | | Belum Ada Tanggapan

Frame Work for Business Telkom

Frame Work for Business Telkom terdiri dari

(1) Malcom Baldrige for Performance Excellence,

(2)   Human Capital Management,

(3) Strategic Human Capital Management Pillars Leveraging Human Capital Management to Performance Excellent, dan

(4) Lessons Learned Sharing Telkom Implementation.

Human Capital adalah manusia yang ada dalam perusahaan dengan segala  keunikannya (skill, knowledge, attitude, aptitude, expertise, experience, ellgibilty, ability, suitability, authority, training, education, creativity, dan nilai tumbuh lainnya), yang membentuk sebagai kekayaan korporasi, biasa disebut talent.

Ke depan yang dibutuhkan adalah talent skill serta team work yang berhubungan dengan vendor dan regulator. Talent orang-orang yang memberikan impact ke bisnis. Inilah perubahan Human Resources ke Human Capital. “Di Telkom yang dikelola dalam Human Capital Management-nya adalah brain orang itu, bukan individunya, agar dia bisa memberi result ke bisnis. Brain pegawai dimasukkan ke server, apabila dia ingin keluar dari Telkom, silahkan.. karena brain orang itu sudah ada di Telkom. Ini yang dinamakan Learning Organization, artinya walaupun dia pergi organisasinya masih berkembang”.

Untuk mengukur personal itu Telkom menggunakan Competency Base Human Resources Management (CBHRM). Telkom menilainya dari K1 hingga K5. K1 yang terbaik dan K5 yang terburuk. Semua pegawai mendapat K3  berarti human resources manajemennya sudah bagus, tinggal impactnya ke bisnis tidak?  Sekarang bersaing bukan pada produknya lagi tetapi talent orangnya, dan melihat talent competitor, dan lebih luas lagi melihat negaranya.

Contoh, sekarang banyak perusahaan mengejar nilai Malcolm Baldrige diatas 500. Ia pun pernah bertanya pada Paul Steel, apakah ciri-ciri perusahaan yang sudah memperoleh  nilai  Malcolm Baldrige 600, seperti  Perusahaan Boeing? Dijawab Paul Steel, bukan nilai yang dicari, tetapi adakah dampak ke bisnis perusahaan itu. Contohnya bila masuk sebuah perusahaan yang besar di lobby tidak ada lagi pegawai yang duduk ngobrol walaupun sebentar, atau di dalam ruang kerja pegawai tidak ada pegawai ngobrol untuk menarik perhatian rekan kerja yang lain atau ketawa-tawa. Apakah hal ini masih ada?

Contohnya yang sederhana, Telkom masuk 650 perusahaan di dunia. Targetnya masuk 500 perusahaan di dunia. Bila masih memakai personal management apakah Telkom bisa mencapainya? Jadi untuk mengukur sukses atau tidaknya ada pada bisnis performancenya, dengan kredo kerja bagus, karir dan uang akan mengikutinya.

November 6, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Tidak terkategori | | 1 Tanggapan