Frame Work for Business Telkom
Frame Work for Business Telkom terdiri dari
(1) Malcom Baldrige for Performance Excellence,
(2) Human Capital Management,
(3) Strategic Human Capital Management Pillars Leveraging Human Capital Management to Performance Excellent, dan
(4) Lessons Learned Sharing Telkom Implementation.
Human Capital adalah manusia yang ada dalam perusahaan dengan segala keunikannya (skill, knowledge, attitude, aptitude, expertise, experience, ellgibilty, ability, suitability, authority, training, education, creativity, dan nilai tumbuh lainnya), yang membentuk sebagai kekayaan korporasi, biasa disebut talent.
Ke depan yang dibutuhkan adalah talent skill serta team work yang berhubungan dengan vendor dan regulator. Talent orang-orang yang memberikan impact ke bisnis. Inilah perubahan Human Resources ke Human Capital. “Di Telkom yang dikelola dalam Human Capital Management-nya adalah brain orang itu, bukan individunya, agar dia bisa memberi result ke bisnis. Brain pegawai dimasukkan ke server, apabila dia ingin keluar dari Telkom, silahkan.. karena brain orang itu sudah ada di Telkom. Ini yang dinamakan Learning Organization, artinya walaupun dia pergi organisasinya masih berkembang”.
Untuk mengukur personal itu Telkom menggunakan Competency Base Human Resources Management (CBHRM). Telkom menilainya dari K1 hingga K5. K1 yang terbaik dan K5 yang terburuk. Semua pegawai mendapat K3 berarti human resources manajemennya sudah bagus, tinggal impactnya ke bisnis tidak? Sekarang bersaing bukan pada produknya lagi tetapi talent orangnya, dan melihat talent competitor, dan lebih luas lagi melihat negaranya.
Contoh, sekarang banyak perusahaan mengejar nilai Malcolm Baldrige diatas 500. Ia pun pernah bertanya pada Paul Steel, apakah ciri-ciri perusahaan yang sudah memperoleh nilai Malcolm Baldrige 600, seperti Perusahaan Boeing? Dijawab Paul Steel, bukan nilai yang dicari, tetapi adakah dampak ke bisnis perusahaan itu. Contohnya bila masuk sebuah perusahaan yang besar di lobby tidak ada lagi pegawai yang duduk ngobrol walaupun sebentar, atau di dalam ruang kerja pegawai tidak ada pegawai ngobrol untuk menarik perhatian rekan kerja yang lain atau ketawa-tawa. Apakah hal ini masih ada?
Contohnya yang sederhana, Telkom masuk 650 perusahaan di dunia. Targetnya masuk 500 perusahaan di dunia. Bila masih memakai personal management apakah Telkom bisa mencapainya? Jadi untuk mengukur sukses atau tidaknya ada pada bisnis performancenya, dengan kredo kerja bagus, karir dan uang akan mengikutinya.
1 Komentar »
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Oktober 2008 (8)
- Maret 2008 (3)
- Januari 2008 (1)
- November 2007 (5)
- Oktober 2007 (3)
- September 2007 (18)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
cubadak mas