Belajar dari Naruto
Kagebunshin No Jutsu…..tuing…Naruto jadi banyak….Baru pagi ini kepikiran, begitu luar biasanya Naruto, saat ini penjual merchan dari produk Naruto sudah merambah kemana-mana, mulai dari kaos, spanduk, sticker, jam tangan, patung, gantungan kunci, mainan, kaos tangan, ikat rambut sampai semua assessories menggunakan model Naruto. Dan yang mengagumkan adalah anak-anak semua hapal dengan istilah-istilah aneh yang mungkin ditelinga kita agak geli…..Kagebushin No Jutsu…(mantra untuk memperbanyak diri – ilmu khusus Naruto).Naruta adalah suatu manga (cartoon Jepang) karya dari Masashi Kishimoto, sudah 2 juta volumes terjual di US dan lebih dari 80 juta di Jepang sendiri. Volume 7 adalah pemenang dari Quill Award 2006 dalam kategori Novel Graphic terbaik. Saat ini termasuk dalam 150 book list di US yang paling TOP.So, belajar dari Naruto, apa yang digarap adalah segmentasi yang jelas yaitu overall children, targetting dari kartoon ini adalah anak muda dan positioning adalah sebagai entertainment dan education (jiwa korsa, tolong menolong dan kepahlawanan).Saat saya melihat Naruto, terus terang agak bingung, apa bagusnya seorang anak dengan jaket orange dan terus terang gaya bertarungnya ga hebat-hebat amat, namun dia konsisten membantu teman-temannya. Disini saya terus berpikir kok seperti Flexi yang….seakan-akan Naruto ini bisa menjelma sebagai Flexi yang begitu dikagumi anak-anak dan mereka rela untuk berbelanja asesoriesnya.Flexi, saat ini mengalami penurunan akibat dihajar oleh kompetitor, dengan price war yang gila-gilaan dan berbagai strategi yang senantiasa membuat kita terkaget-kaget. Dalam kaitan ini, apakah pernah kepikir oleh kita semua bahwa Flexi adalah produk terbaik yang pernah dibuat oleh TELKOM ? Kita lihat saja dengan kondisi masih prematur, sudah berhasil mendapatkan 6 juta pelanggan dan target tahun 2008 ini adalah melampaui Fixed Line. Sebagai member TELKOM, tentunya kita semua berbangga dengan produk ini, sekalipun terkadang Drop Call dan Performansi layanan masih sering terjadi, namun improvement terus senantiasa dilakukan.Kembali ke Naruto, saya berpikir seandainya bisa dilakukan Co-Branding dengan produk Flexi, tentunya dari segi Voucher isi ulang akan banyak dikoleksi oleh anak-anak, kemudian untuk pesawat Flexi yang dibundle dengan nomor Flexi bisa dibuat chasing dari Naruto ini dan dijual ke sekolah-sekolah. Saya rasa hanya dengan memanfaatkan image Naruto ini akan bisa mendongkrak penjual Flexi baik dari segi terminal, nomor maupun voucher isi ulang (untuk dikoleksi ?). Buat saja dengan special edition tanpa perlu untuk banting-bantingan harga.Perhitungan saya adalah, kita ambil asumsi ada sekitar 1 juta anak di Indonesia, dimana setiap terminal Flexi yang dilengkapi perlengkapan Naruto ini dijual dengan harga Rp. 250 ribu. Maka akan diperoleh sekitar 250 M dari penjualan terminal. Bila kita lihat dari Nexian atau Sanex bisa menawarkan terminal dengan harga Rp. 150 ribu (skala 1 juta terminal). Maka TELKOM akan mendapatkan profit kurang lebih sekitar 100 M (dipotong biaya masuk, asessories naruto dsb). Ditambah lagi dari Voucher isi ulang Flexi, dengan asumsi ada 100 image Naruto dan teman-temannya, bila dikalikan dengan harga Voucher Rp. 10 ribu, bisa diperoleh satu set Naruto series sebanyak 1 juta yang bisa dipake 1 tahun dan kartunya bisa dikoleksi untuk dipertukarkan antar penggemar Naruto. Ini bisa dikalikan dengan 1 juta anak tadi.Apa lagi kalau bisa dikerjasamakan dengan outlet assessories seperti Strawberry, Naughty dsb dimana bukan hanya outlet handset yang bisa menjual assessories ini. Bekerjasama dengan GameMaster atau TimeZone untuk kontest adu kartu Naruto (sedang in dibeberapa kota besar) dan dengan adanya pertandingan Playstation atau komputer network, akan menjadi media untuk promosi yang sangat luar biasa.Perlu diketahui bahwa anak-anak sekarang menjadi pengaruh terbesar bagi orang tua dalam pemilihan teknologi telekomunikasi yang digunakan. Beberapa saat yang lalu dilihat dari market size anak Indonesia bisa mencapai 4 trilyun dan terus tumbuh dengan pesat.Saat kompetitor berperang dengan tarif, kenapa Flexi tidak belajar dari Naruto, mulailah menggarap sektor anak-anak yang belum dilirik oleh operator lain, tidak banyak komplain dan sangat mudah untuk membeli sesuatu.Marilah kita coba berpikir lebih jauh untuk menggarap sektor ini demi kemajuan TLEKOM juga. Dan yang terpenting adalah marilah kita belajar dari anak-anak kita, terkadang mereka memiliki banyak sekali idea bagus yang tidak terpikir oleh kita semua.
Memahami Masalah
Saat ini saya sedang berpikir keras, kenapa anak saya suka bermain ke rumah temannya dibandingkan dengan bermain di rumah sendiri, padahal semua kebutuhannya sudah dipenuhi. Anak saya sampai menangis ketika dilarang, padahal pagi hari sudah sempat main kerumah temannya itu, namun sore hari dia kepengin untuk main lagi kesana. Ketika saya tanyakan, main apa sich disana, anak saya bilang, maen komputer seperti biasa, games dan kapal-kapalan. Namun feeling sebagai orang tua, ada something wrong yang terjadi. Saat saya desak, dia akhirnya menangis, namun satu hal yang saya pelajari, ada kehilangan saat-saat bermain dengan teman-temannya. Saat anak saya dipersilakan untuk main sepuasnya, ternyata temannya itu malahan les private sepanjang waktu. Jadi waktu untuk bermain yang biasanya dilakukan anak saya dengan temannya itu mulai berkurang. Saat saya berpikir bahwa anak seumuran anak saya seharusnya banyak main, malahan keliru, karena ternyata teman-temannya semua pada les private dan sibuk dengan agenda yang lebih heboh dibandingkan saya dikantor.Ternyata kehidupan anak sekarang sudah berbeda, dari kecil sudah di pacu untuk belajar dan belajar, saat bermain makin kurang. Dan memang betul, anak saya sekalipun tidak pernah mendapatkan nilai dibawah 8, dengan rata-rata kelas diatas 8, masuk sebagai rangking paling rendah. Kalau sudah begini, sebagai orang tua, apakah saya harus memacu anak saya, atau membiarkan dia berkembang apa adanya ?
Cerita Seputar Link Putus
Akses ke website luar negeri ada masalah? Yang di laut kan sudah lebih dari 10 hari putus. dan memang sdh dialihkan ke jalur darat. Seharusnya kalau sudah 10 hari putus, dan hanya mengandalkan jalur darat sudah bisa membuat kontigensi, dan statusnya sudah darurat. Jalur darat harus dibuat dua jalur juga. Terbukti yang darat ambrol juga. Jadi tidak bisa berbangga kita punya 2 jalur. Karena kalau 1 jalur putus (skkl) time to repairnya lama sekali.
Sejak terputusnya SKKLTJN-TPS km 39.5, seluruh Area Network Infratel khususnya yang dilalui Network Ring I Jasuka melaksanakan SIAGA 1 dengan melaksanakan patroli setiap hari pada rute FO backbone dan menyiapkan link kontingensi E1 via GMD Transum I Ch-X sejak terputusnya SKKL. Namun bisa dibayangkankan… kapasitas Jasuka yang saat ini operasi 2 x STM-64 versus GMD Transum I PDH 140 Mbps ~ 64E1 ? Itu salah satu upaya antisipasi bila terjadi putus FO didarat karena kami dan juga manajemen pasti tahu jika dengan kondisi SKKL demikian dan FO darat putus, pastiSumatera…outage. Dan saat FO darat putus, kami fokus untuk menghidupkan Jasuka dulu.
Kontingensi FO darat kami upayakan dengan mencoba FO RMJ maupun FO backbone dalam kota via sto Kenten Ujung. Yang pertama gagal karena perbedaan type kabel tidak support untuk Jasuka. Sedangkan yang kedua gagal karena untuk membentuk link kontingensi via sto kenten ujung harus membuat optical tie line antar gedung dan ruangan yang berpotensi menambah redaman kabel sehingga saat diintegrasikan termonitor span loss akibat total redaman yang terlalu tinggi melebihi yang diharapkan sistem. Disamping itu, perbaikan OSP yg terganggu terus diupayakan. Mengapa lama recovery-nya….ternyata perbaikan OSP-nya juga sangat “kompleks”.
Dari kejadian kemarin yang memang tidak pernah kami duga sebelumnya, dimana kami berasumsi bahwa rute kabel FO dalam duct kabel aman, ternyata salah (FO darat yang putus lalu pada rute duct dalam kota Palembang), ke depan akan diupayakan pembuatan kontingensi rute FO untuk antisipasi seperti kejadian yg lalu.Musti sewa kapal dari Singapore, terus perbaikan kan ada antriannya. Seperti kasus kemarin menunggu perbaikan skkl Indosat dulu, baru gilirannya Telkom.
Telkom sudah masuk dalam konsorsiumSEAIOCMA (The South East Asia and Indian Ocean Cable Maintenance Agreement) dengan iuran pertahun yang jumlahnya cukup besar. Dalam konsorsium tersebut perusahaan yang menangani perbaikan kabel laut adalah ACPL (Asean Cableship Pte.Ltd.) yang bermarkas di Singapura. Terkait kejadian putusnya kabel SKKL Jasuka ruas TJN-TPS tanggal 20-02-2008, Telkom cq Divisi Infratel langsung kontak ke ACPL untuk proses perbaikan dan mendapat respon: perbaikan akan dilaksanakan pada range waktu tgl 25-02 s.d 07-03 2008. Saat itu Cableship Asean Restorer sudah standby di Singapura.
Mengapa lama…? Proses perbaikan dimulai dengan loading kabel di cableship, permintaan entry permit kepada pemerintah Indonesia (ini yang paling lama-/+5 hari ssi pengalaman), pelayaran dari port base ke lokasi gangguan(-/+26jam), clearence entry permit syahbandar di lokasi kewenangan area lautnya(-/+6 jam), pencarian kabel laut yang putus, pengetesan optical & elecrical sebelum proses penyambungan, penyambungan kabel laut, pengetesan optical & electrical lagi setelah penyambungan dan clearence exit permit lagi. Intinya … Telkom sudah tahu apa yang harus dilakukan dan lamanya proses tergantung juga kepada pihak eksternal.
-
Arsip
- Oktober 2008 (8)
- Maret 2008 (3)
- Januari 2008 (1)
- November 2007 (5)
- Oktober 2007 (3)
- September 2007 (18)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS