Memahami Masalah
Saat ini saya sedang berpikir keras, kenapa anak saya suka bermain ke rumah temannya dibandingkan dengan bermain di rumah sendiri, padahal semua kebutuhannya sudah dipenuhi. Anak saya sampai menangis ketika dilarang, padahal pagi hari sudah sempat main kerumah temannya itu, namun sore hari dia kepengin untuk main lagi kesana. Ketika saya tanyakan, main apa sich disana, anak saya bilang, maen komputer seperti biasa, games dan kapal-kapalan. Namun feeling sebagai orang tua, ada something wrong yang terjadi. Saat saya desak, dia akhirnya menangis, namun satu hal yang saya pelajari, ada kehilangan saat-saat bermain dengan teman-temannya. Saat anak saya dipersilakan untuk main sepuasnya, ternyata temannya itu malahan les private sepanjang waktu. Jadi waktu untuk bermain yang biasanya dilakukan anak saya dengan temannya itu mulai berkurang. Saat saya berpikir bahwa anak seumuran anak saya seharusnya banyak main, malahan keliru, karena ternyata teman-temannya semua pada les private dan sibuk dengan agenda yang lebih heboh dibandingkan saya dikantor.Ternyata kehidupan anak sekarang sudah berbeda, dari kecil sudah di pacu untuk belajar dan belajar, saat bermain makin kurang. Dan memang betul, anak saya sekalipun tidak pernah mendapatkan nilai dibawah 8, dengan rata-rata kelas diatas 8, masuk sebagai rangking paling rendah. Kalau sudah begini, sebagai orang tua, apakah saya harus memacu anak saya, atau membiarkan dia berkembang apa adanya ?
Cerita Seputar Link Putus
Akses ke website luar negeri ada masalah? Yang di laut kan sudah lebih dari 10 hari putus. dan memang sdh dialihkan ke jalur darat. Seharusnya kalau sudah 10 hari putus, dan hanya mengandalkan jalur darat sudah bisa membuat kontigensi, dan statusnya sudah darurat. Jalur darat harus dibuat dua jalur juga. Terbukti yang darat ambrol juga. Jadi tidak bisa berbangga kita punya 2 jalur. Karena kalau 1 jalur putus (skkl) time to repairnya lama sekali.
Sejak terputusnya SKKLTJN-TPS km 39.5, seluruh Area Network Infratel khususnya yang dilalui Network Ring I Jasuka melaksanakan SIAGA 1 dengan melaksanakan patroli setiap hari pada rute FO backbone dan menyiapkan link kontingensi E1 via GMD Transum I Ch-X sejak terputusnya SKKL. Namun bisa dibayangkankan… kapasitas Jasuka yang saat ini operasi 2 x STM-64 versus GMD Transum I PDH 140 Mbps ~ 64E1 ? Itu salah satu upaya antisipasi bila terjadi putus FO didarat karena kami dan juga manajemen pasti tahu jika dengan kondisi SKKL demikian dan FO darat putus, pastiSumatera…outage. Dan saat FO darat putus, kami fokus untuk menghidupkan Jasuka dulu.
Kontingensi FO darat kami upayakan dengan mencoba FO RMJ maupun FO backbone dalam kota via sto Kenten Ujung. Yang pertama gagal karena perbedaan type kabel tidak support untuk Jasuka. Sedangkan yang kedua gagal karena untuk membentuk link kontingensi via sto kenten ujung harus membuat optical tie line antar gedung dan ruangan yang berpotensi menambah redaman kabel sehingga saat diintegrasikan termonitor span loss akibat total redaman yang terlalu tinggi melebihi yang diharapkan sistem. Disamping itu, perbaikan OSP yg terganggu terus diupayakan. Mengapa lama recovery-nya….ternyata perbaikan OSP-nya juga sangat “kompleks”.
Dari kejadian kemarin yang memang tidak pernah kami duga sebelumnya, dimana kami berasumsi bahwa rute kabel FO dalam duct kabel aman, ternyata salah (FO darat yang putus lalu pada rute duct dalam kota Palembang), ke depan akan diupayakan pembuatan kontingensi rute FO untuk antisipasi seperti kejadian yg lalu.Musti sewa kapal dari Singapore, terus perbaikan kan ada antriannya. Seperti kasus kemarin menunggu perbaikan skkl Indosat dulu, baru gilirannya Telkom.
Telkom sudah masuk dalam konsorsiumSEAIOCMA (The South East Asia and Indian Ocean Cable Maintenance Agreement) dengan iuran pertahun yang jumlahnya cukup besar. Dalam konsorsium tersebut perusahaan yang menangani perbaikan kabel laut adalah ACPL (Asean Cableship Pte.Ltd.) yang bermarkas di Singapura. Terkait kejadian putusnya kabel SKKL Jasuka ruas TJN-TPS tanggal 20-02-2008, Telkom cq Divisi Infratel langsung kontak ke ACPL untuk proses perbaikan dan mendapat respon: perbaikan akan dilaksanakan pada range waktu tgl 25-02 s.d 07-03 2008. Saat itu Cableship Asean Restorer sudah standby di Singapura.
Mengapa lama…? Proses perbaikan dimulai dengan loading kabel di cableship, permintaan entry permit kepada pemerintah Indonesia (ini yang paling lama-/+5 hari ssi pengalaman), pelayaran dari port base ke lokasi gangguan(-/+26jam), clearence entry permit syahbandar di lokasi kewenangan area lautnya(-/+6 jam), pencarian kabel laut yang putus, pengetesan optical & elecrical sebelum proses penyambungan, penyambungan kabel laut, pengetesan optical & electrical lagi setelah penyambungan dan clearence exit permit lagi. Intinya … Telkom sudah tahu apa yang harus dilakukan dan lamanya proses tergantung juga kepada pihak eksternal.
-
Arsip
- Oktober 2008 (8)
- Maret 2008 (3)
- Januari 2008 (1)
- November 2007 (5)
- Oktober 2007 (3)
- September 2007 (18)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS