Henrisetiawan’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Memahami Masalah

Saat ini saya sedang berpikir keras, kenapa anak saya suka bermain ke rumah temannya dibandingkan dengan bermain di rumah sendiri, padahal semua kebutuhannya sudah dipenuhi. Anak saya sampai menangis ketika dilarang, padahal pagi hari sudah sempat main kerumah temannya itu, namun sore hari dia kepengin untuk main lagi kesana. Ketika saya tanyakan, main apa sich disana, anak saya bilang, maen komputer seperti biasa, games dan kapal-kapalan. Namun feeling sebagai orang tua, ada something wrong yang terjadi. Saat saya desak, dia akhirnya menangis, namun satu hal yang saya pelajari, ada kehilangan saat-saat bermain dengan teman-temannya. Saat anak saya dipersilakan untuk main sepuasnya, ternyata temannya itu malahan les private sepanjang waktu.  Jadi waktu untuk bermain yang biasanya dilakukan anak saya dengan temannya itu mulai berkurang. Saat saya berpikir bahwa anak seumuran anak saya seharusnya banyak main, malahan keliru, karena ternyata teman-temannya semua pada les private dan sibuk dengan agenda yang lebih heboh dibandingkan saya dikantor.Ternyata kehidupan anak sekarang sudah berbeda, dari kecil sudah di pacu untuk belajar dan belajar, saat bermain makin kurang. Dan memang betul, anak saya sekalipun tidak pernah mendapatkan nilai dibawah 8, dengan rata-rata kelas diatas 8, masuk sebagai rangking paling rendah. Kalau sudah begini, sebagai orang tua, apakah saya harus memacu anak saya, atau membiarkan dia berkembang apa adanya ? 

Maret 3, 2008 Ditulis oleh henrisetiawan | Tidak terkategori | | & Komentar

Cerita Seputar Link Putus

Akses ke  website luar negeri ada masalah?   Yang  di  laut  kan  sudah  lebih dari 10 hari putus. dan memang sdh   dialihkan  ke  jalur  darat.  Seharusnya kalau sudah 10 hari putus, dan hanya   mengandalkan  jalur  darat  sudah  bisa  membuat  kontigensi,  dan  statusnya  sudah darurat. Jalur darat harus dibuat dua jalur juga.  Terbukti yang darat ambrol juga. Jadi tidak bisa berbangga kita punya 2 jalur.   Karena kalau 1 jalur putus (skkl) time to repairnya lama sekali.

Sejak terputusnya SKKLTJN-TPS km 39.5, seluruh  Area  Network  Infratel khususnya yang dilalui Network Ring I Jasuka   melaksanakan  SIAGA  1  dengan melaksanakan patroli setiap hari pada   rute  FO backbone dan menyiapkan link kontingensi E1 via GMD Transum   I  Ch-X sejak  terputusnya  SKKL.  Namun  bisa  dibayangkankan…   kapasitas Jasuka yang saat ini operasi 2 x STM-64 versus GMD Transum   I PDH 140 Mbps ~ 64E1 ? Itu  salah  satu upaya antisipasi bila terjadi putus FO didarat   karena  kami  dan juga manajemen pasti tahu jika dengan kondisi SKKL   demikian  dan  FO darat putus, pastiSumatera…outage. Dan saat  FO darat putus, kami fokus untuk menghidupkan Jasuka dulu.

Kontingensi  FO  darat kami upayakan dengan mencoba FO RMJ maupun FO backbone  dalam kota via sto Kenten Ujung. Yang pertama gagal karena   perbedaan  type  kabel tidak support untuk Jasuka. Sedangkan yang   kedua  gagal  karena untuk membentuk link kontingensi via sto kenten   ujung  harus  membuat optical tie line antar gedung dan ruangan yang   berpotensi  menambah  redaman  kabel  sehingga  saat  diintegrasikan   termonitor  span loss akibat total redaman yang terlalu tinggi melebihi  yang  diharapkan sistem. Disamping itu, perbaikan OSP yg terganggu terus diupayakan. Mengapa lama recovery-nya….ternyata perbaikan   OSP-nya juga sangat “kompleks”.

Dari kejadian kemarin yang memang tidak pernah kami duga sebelumnya,   dimana  kami berasumsi bahwa rute kabel FO dalam duct kabel aman, ternyata  salah (FO darat yang putus lalu pada rute duct dalam kota   Palembang),  ke  depan akan diupayakan pembuatan kontingensi rute FO   untuk antisipasi seperti kejadian yg lalu.Musti  sewa  kapal dari Singapore, terus perbaikan kan ada antriannya. Seperti  kasus  kemarin  menunggu perbaikan skkl Indosat dulu, baru gilirannya Telkom.

Telkom  sudah masuk dalam konsorsiumSEAIOCMA     (The  South  East Asia and Indian Ocean Cable Maintenance Agreement)   dengan  iuran  pertahun  yang  jumlahnya  cukup  besar.  Dalam konsorsium  tersebut perusahaan yang menangani perbaikan kabel     laut  adalah  ACPL  (Asean Cableship Pte.Ltd.) yang bermarkas di Singapura.  Terkait  kejadian  putusnya kabel SKKL Jasuka ruas     TJN-TPS  tanggal  20-02-2008,  Telkom cq Divisi Infratel langsung     kontak  ke ACPL  untuk  proses  perbaikan  dan  mendapat respon:  perbaikan  akan dilaksanakan pada range waktu tgl 25-02 s.d 07-03 2008. Saat itu Cableship Asean Restorer sudah standby di Singapura.

Mengapa lama…? Proses perbaikan dimulai dengan loading kabel  di cableship, permintaan entry permit kepada pemerintah Indonesia     (ini  yang paling lama-/+5 hari ssi pengalaman), pelayaran dari port base  ke lokasi gangguan(-/+26jam), clearence entry permit     syahbandar   di   lokasi   kewenangan area lautnya(-/+6   jam), pencarian  kabel  laut  yang  putus,  pengetesan optical &     elecrical  sebelum  proses penyambungan, penyambungan kabel laut,     pengetesan  optical  &  electrical  lagi setelah penyambungan dan     clearence  exit permit lagi. Intinya … Telkom sudah tahu apa yang harus dilakukan dan lamanya proses tergantung juga kepada pihak eksternal.

Maret 3, 2008 Ditulis oleh henrisetiawan | Warung Kopi | | No Comments Yet