Becoming Blessed CEO
Sukses perusahaan tak hanya diukur berdasar kinerja intelektual dan emosional, tetapi juga spiritual. Itulah ciri perusahaan yang diberkati. Bagaimana cara menjadi perusahaan seperti itu? Bagaimana menjadi CEO yang penuh berkah?
Dalam bukunya Built to Bless (2007), Paulus Bambang W.S. melihat William Soeryadjaya adalah salah satu contoh pemimpin yang berhasil menerapkan konsep built to bless di perusahaannya. Paulus, kini wakil presdir PT United Tractors Tbk., melihat, dalam berbisnis, Om Willem tidak memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi selalu berorientasi pada penciptaan lapangan kerja. Om Willem juga menekankan pentingnya bekerja dengan jujur dan rendah hati, memperhatikan kesejahteraan karyawan, dan selalu berterima kasih kepada Tuhan. Paulus melihat nilai-nilai itu kini dipegang oleh seluruh lapisan manajemen Astra.
Paulus juga melihat Om Willem tak asal bicara. Apa yang ia ajarkan, itu dia lakukan. Bukti paling tegas adalah tatkala si Om harus melepas seluruh sahamnya di Astra agar bisa melunasi utang keluarganya. Om Willem berprinsip utang harus dibayar?walau untuk itu dia harus turun derajat. ?Prinsip ini akhirnya menjadi brand Astra,? tulis Paulus. Astra kemudian dikenal sebagai perusahaan yang tak akan lari dari kewajibannya, tidak akan merusak lingkungan, dan tak akan menghancurkan UKM demi memperbesar diri sendiri.
Built to Bless
Menurut Paulus, konsep built to bless menarik untuk dipelajari dan diterapkan para pemimpin perusahaan. ?Perusahaan yang built to bless sudah menyentuh sisi spiritual yang bersumber kepada Tuhan dalam perilaku bisnisnya. Banyak fenomena menunjukkan spiritualitas, sebagai kata manajemen sekuler untuk kata Tuhan, dapat mendorong kesuksesan perusahaan,? ujarnya. Banyak pemimpin perusahaan yang dulu dianggap puritan karena mencampurbaurkan prinsip agama dan bisnis, kini memperoleh sorotan karena berhasil memimpin perusahaannya mencapai kinerja yang demikian tinggi dengan memperhatikan aspek spiritual. Di antara mereka adalah C. William Pollard (mantan chairman The ServiceMaster Company), S. Truett Cathy (pendiri Chick-fil-A Company), dan W.C. Meloon (pendiri Correct Craft Inc.)
Merujuk konsep built to bless , kesuksesan perusahaan tak hanya diukur dari capaian prestasi keuangan dan pencapaian perusahaan mengembangkan budaya yang sangat kuat, tetapi juga bagaimana menjadi perusahaan yang penuh berkat ( a built to bless company ). Kesuksesan menyeluruh sebuah perusahaan bisa dilihat dari tiga indikator, yaitu:
1. Kinerja intelektual berdasar angka ( good to great company )
2. Kinerja emosional berdasar nilai ( built to last company ), dan
3. Kinerja spiritual berdasar keyakinan atau belief ( built to bless company )
Paulus mengungkapkan, hingga kini, masih banyak orang yang berpandangan bahwa ke-Tuhan-an dan aktivitas bisnis adalah dua hal yang terpisah. Tuhan adalah masalah surgawi, bisnis masalah duniawi. Tuhan sumber kesucian, bisnis sumber kekotoran, penuh tipu daya dan tipu muslihat. Tuhan Maha Pasti, sedangkan bisnis penuh ketidakpastian. Tuhan menekankan persaudaraan dan persahabatan, sementara bisnis memupuk rasa persaingan. Tuhan ingin kejujuran dan keadilan, bisnis justru banyak menumbuhkan sikap manipulasi dan ketidakadilan. Jadi, sifat bisnis dianggap bertentangan dengan sifat Tuhan. ?Mereka menganggap kalau bisnis dikelola dengan prinsip ke-Tuhan-an, pasti mati,? papar Paulus.
Namun, ungkap Paulus, kini menguat pandangan yang meyakini bahwa bisnis dan ke-Tuhan-an harus sejalan seirama. Manusia yang ber-Tuhan tak mungkin menjalankan bisnis yang menentang prinsip-prinsip ke-Tuhan-an. Maka, bermunculan diskusi etika berbisnis dalam kerangka spiritual, seperti menghindari dosa sosial, korupsi, suap, dan pembukuan ganda. Pengertian baik-buruk dan benar-salah dalam penerapan prinsip Good Corporate Governance bergerak lebih jauh lagi ke prinsip baru: God Corporate Governance . perusahaan tak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham ( shareholders ) dan pemangku kepentingan ( stakeholders ), tetapi juga kepada Tuhan ( soulholder ).
Penerapan Built to Bless
Lantas, bisakah konsep built to bless diterapkan? Dapatkah mereka memadukan kepentingan usaha dengan kepentingan spiritual? Mampukah mereka mencari keuntungan sekaligus beribadah? Bagaimana caranya mencari keuntungan yang diberkati Tuhan? Lalu, pada gilirannya, mencuat pertanyaan, bagaimana menjadi seorang CEO yang penuh berkah?
Perusahaan tidak boleh kompromi jika ada karyawannya yang menyimpang dari nilai-nilai perusahaan?walau dia cerdas, berprestasi, dan dibutuhkan perusahaan. Langkah kompromi justru memberikan sinyal yang keliru bagi karyawan lain. Dalam jangka pendek memang merugikan, tetapi jangka panjangnya lebih besar manfaatnya.
Perusahaan setiap saat harus terus mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan kepada seluruh karyawan mengingat godaan-godaan untuk menyimpang muncul setiap saat. Paling cepat, butuh waktu 4?5 tahun untuk mengubah perusahaan yang tadinya tidak terkontrol menjadi tertib.
Untuk menjadi pemimpin perusahaan yang diberkati, mulailah dengan hal-hal sederhana. Misalnya, sebagai pemimpin, ia harus menunjukkan pula perhatian besar perusahaan kepada karyawan, seperti gaji sesuai dengan kelasnya, tak boleh telat, dan memberikan penghargaan atau pengakuan kepada karyawan yang berprestasi.
Filosofi ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Prinsip ?ILMU PADI ada kepanjangannya, yaitu Integritas, Loyalitas, Mandiri, Unggul, Profesional, Amanah, Disiplin, Ikhlas.
Apabila integritas menjamin karyawan memiliki komitmen terhadap tujuan perusahaan dan berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan, maka loyalitas menuntut karyawan bekerja penuh bagi perusahaan dan tak diperbolehkan memiliki usaha sampingan. Mandiri bermakna karyawan setiap saat siap ditempatkan di mana saja, tanpa tergantung pada orang lain, dan unggul berarti setiap saat karyawan harus meningkatkan kapasitas.
Kemudian, profesional adalah karyawan bisa membedakan kepentingan perusahaan dengan kepentingan pribadi, amanah berarti karyawan patut menjaga kepercayaan, tidak boleh menyalahgunakan jabatan. ?Amanah itu pertanggungjawabannya di dunia dan akhirat. Disiplin , tambahnya, juga penting diterapkan karena ini bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan. ?Pekerjaan itu karunia Tuhan dan patut disyukuri karena tak semua orang mempunyai kesempatan kerja yang sama. Terakhir, ikhlas bermakna karyawan janganlah berpikir bahwa pekerjaan yang dilakukannya tidak dinilai Tuhan. ?Dengan bekerja lebih keras, sebenarnya ia juga sedang menabung berkat yang akan diberikan Tuhan.
God Corporate Governance
Menurut Paulus, untuk bisa menjadi pemimpin perusahaan yang diberkati, kepribadian seorang bisa diubah menjadi kepribadian yang diberkati. Apa saja ciri-cirinya? Papar Paulus, ada tiga elemen pokok.
1. Pertama, memiliki landasan spiritual yang kuat dalam meletakkan norma, etika, nilai, dan budaya ( beyond the standard NORM ).
2. Kedua, mengakui bahwa Tuhan adalah utama.
Ketiga, menerapkan God (bukan Good ) Corporate Governance secara pribadi dalam pekerjaannya dan memberikan pengaruh yang benar kepada lingkungan sekitar dalam semua aspek kehidupan ( quality of life ).
Selain itu, tambah Paulus, seorang pemimpin yang penuh berkah setidaknya harus memiliki 10 pegangan keyakinan ( belief ) sebagai pegangan hidup pribadi, yaitu beriman, setia, jujur, rendah hati, tulus, cerdik, berwawasan ke depan, mampu melakukan langkah terobosan, memiliki semangat juang, dan berupaya menghasilkan kinerja akhir unggul. ?Sepuluh sifat ini tidak berdiri sendiri, tetapi terjalin kuat dan harus dibalut dalam kerangka besar yang mengayomi seluruh keyakinan hidup, yaitu kasih yang merupakan sumber kehidupan,? urai Paulus.
Dalam bukunya yang berjudul The Celestial Management (2004), A. Riawan Amin, presdir PT Bank Muamalat Indonesia, juga mencoba memberikan panduan bagi para CEO dengan memberi sentuhan spiritual dalam pengelolaan usaha. Nilai-nilai spiritual yang relevan dengan kegiatan bisnis itu ia kemas dalam 12 atribut utama yang dirangkum dalam tiga kategori, yaitu ZIKR (Zero Base, Iman, Konsisten, Result Oriented), PIKR (Power Sharing, Information Sharing, Knowledge Sharing, Rewards Sharing), dan MIKR (Militan, Intelek, Kompetitif dan Regeneratif).
Lima Skill Seorang GM
Lima skill yang harus dimiliki oleh para general manager sebagai orang nomor satu di Kantor Datel. Datel Platinum adalah yang memiliki penghasilan antara Rp 300 miliar sampai Rp 600 miliar setahun, sedangkan Datel Gold memiliki penghasilan di bawah Rp 300 miliar setahun.
Skill pertama yang harus dimiliki adalah harus melakukan resonansi dan simplicity. Resonansi terkait obsesi dan komitmen serta kemampuan mengomunikasikan kepada jajarannya secara efektif. Seluruh rencana itu jgua harus dapat dirumuskan secara sederhana namun tetap menumbuhkan induksi dan spirit untuk mencapai obsesi tadi.
Skill kedua adalah mampu melakukan difficult learning sehingga dapat belajar dari apa yang telah terjadi serta menganalisis kemungkinan berikutnya.
Skill ketiga adalah mampu menggunakan inner sense. Intuisi atau kata hati merupakan sense yang tumbuh dari pengalaman panjang sehingga patut diperhitungkan dalam pengambilan keputusan bisnis.
Skill keempat adalah mampu melakukan multifokus. Di dalam organisasi Datel cukup banyak hal yang harus dipegang, dan semua itu harus mampu diorganisir dengan manajemen yang baik.
Dan skill kelima adalah memaksimalkan energi yang ada. GM harus mampu menggerakan seluruh resource untuk mencapai target.
”Perlu diingat, GM bekerja bukan berdasarkan waktu sehingga jam 5 sore selalu pulang. GM bekerja berdasarkan modul dan target yang telah ditetapkan. GM harus mampu memberikan spirit bagi organisasi untuk maju mencapai target-target yang menantang untuk dicapai” .
Datel Platinum adalah yang memiliki penghasilan antara Rp 300 miliar sampai Rp 600 miliar setahun, sedangkan Datel Gold memiliki penghasilan di bawah Rp 300 miliar setahun.
“Marketing is Perception”
Persepsi yang dimaksud adalah persepsi pelanggan terutama pelanggan korporasi terhadap penyelenggara layanan telekomunikasi. Untuk meningkatkan persepsi pelanggan terhadap TELKOM di tengah gencarnya aksi kompetitor, perlu diwujudkan upaya Winning The Customer Mind Share melalui langkah yang strategik, taktis dan operasional yang sinergis.
Selanjutnya ada beberapa langkah strategik yang perlu ditempuh untuk membentuk persepsi pelanggan. Pertama adalah implementasi strategi Enterprise Winning Way. Strategi ini diterapkan di DIVES dan dikenal dengan nama Magnificent-7 (M7) yang memiliki 4 Key Success, 8 Key Initiatives dan 16 Program Utama dengan Siprit “Together Nothing Impossible”. Kedua adalah penerapan Customer Centric yang diwujudkan melalui transformasi organisasi di lingkunan DITEWS, tujuannya adalah untuk lebih memfokuskan aktivitas pengelolaan pelanggan korporasi.
Selain langkah strategik dalam Winning The Customer Mind Share juga ditempuh langkah taktis melalui implementasi branding TELKOM Solution Business Partner. TELKOM memposisikan diri sebagai mitra/partner bagi pelanggan dalam meningkatkan bisnisnya melalui berbagai solusi strategis yang ditawarkan. Langkah strategik lainnya adalah Winning on Bidding. Dari 80 proposal tender yang ditawarkan kepada pelanggan, 100% dimenangkan oleh TELKOM. Dalam hal ini sangat sulit bagi kompetitor untuk mengalahkan TELKOM kecuali jika terjadi kesalahan yang dilakukan TELKOM. Selain itu perlu pula adanya Implementasi Incentive Winning Team berupa pemberian insentif kepada team yang telah memenangkan bidding dalam skala besar. Hal ini adalah sesuatu yang wajar di dunia marketing atau sales dan menjadi pelengkap langkah strategik lainnya.
Beberapa langkah Winning The Customer Mind Share di level operasional, berupa Integrated Marketing Communication di High End Market. Dengan menjadikan TELKOM sebagai pusat perhatian di berbagai media melalui pemberitaan yang baik dapat meningkatkan persepsi positif pelanggan. Hal lainnya adalah penyelenggaraan C2Care dan TSH (TELKOM Solution House) yang merupakan upaya service plus bagi pelanggan korporasi. Hadirnya C2Care Car merupakan bentuk kepedulian TELKOM dalam melakukan mobile services dan diharapkan dapat meningkatkan image/tangibility TELKOM di mata pelanggannya. Sedangkan TELKOM Solution House di Lobby Gedung Chase Plaza Jl. Sudirman Kav.21 Jakarta, adalah langkah nyata dalam mewujudkan TELKOM Solution Business Partner.
22 Tanda Perusahaan Bermasalah
1. Declining profitability
2. Declining net worth
3. Declining sales
4. Lack of Growth
5. Increasing Debt
6. Cash Flow Problems
7. Declining current assets to current liabilities ratio
8. Declining quick asset ratio
9. Increasing expense to sales ratio
10.Declining market share
11.Dividend cuts
12.Increasing inventories
13.Increasing product returns
14.Declining capital investment
15.Problems with banks & lenders
16.Problems with Auditors
17.Management Problems (mis. lack of planning & commitments)
18.Milking subsidiaries (high cash flow to main company)
19.Too many businesses started
20.Inattention to public relations
21.Increasing legal expenses
22.large-scale stock sale by insiders
Mem-BACA-kan Speedy
Speedy adalah salah satu produk unggulan Telkom yang diharapkan akan mampu mendongkrak revenue Telkom disisi layanan broadband. Sejak digelar sebagai suatu layanan pertengahan tahun 2005 yang lalu, Speedy telah dianggap suatu produk yang cukup sukses dipasaran. Namun dari segi target yang akan dicapai masih jauh dari sasaran, kondisi ini membutuhkan suatu analisa dalam strategi pemasaran dilihat dari segi pengembangan produk layanan Speedy sendiri sampai dengan langkah yang dapat ditempuh guna meningkatkan angka penjualan dari produk layanan Speedy ini. Disamping rencana penjualan, Telkom juga perlu untuk memikirkan strategi jangka panjang akan layanan Speedy ini, bagaimana produk ini akan melekat dimasyarakat dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat disamping dapat meningkatkan penetrasi broadband di Indonesia.
Dalam tulisan ini mengulas mengenai suatu konsep peluncuran layanan yang diharapkan akan mampu memberikan masukan untuk pemasaran Speedy. Konsep ini melihat pada beberapa parameter yang berdasarkan pada suatu konsep BACA – Branding, Awareness, Cost dan Availability, diharapkan akan mampu untuk meningkatkan value dari layanan Speedy ini sehingga dapat mendongkrak revenue bagi Telkom disamping meningkatkan citra perusahaan.
Marketing is Perception
Persepsi yang dimaksud adalah persepsi pelanggan terutama pelanggan korporasi terhadap penyelenggara layanan telekomunikasi. Untuk meningkatkan persepsi pelanggan terhadap TELKOM di tengah gencarnya aksi kompetitor, perlu diwujudkan upaya Winning The Customer Mind Share melalui langkah yang strategik, taktis dan operasional yang sinergis.
Langkah strategik yang perlu ditempuh untuk membentuk persepsi pelanggan antara lain:
- Pertama adalah implementasi strategi Enterprise Winning Way. Strategi ini diterapkan di DIVES dan dikenal dengan nama Magnificent-7 (M7) yang memiliki 4 Key Success, 8 Key Initiatives dan 16 Program Utama dengan Siprit “Together Nothing Impossible”.
- Kedua adalah penerapan Customer Centric yang diwujudkan melalui transformasi organisasi di lingkunan DITEWS, tujuannya adalah untuk lebih memfokuskan aktivitas pengelolaan pelanggan korporasi.
Selain langkah strategik dalam Winning The Customer Mind Share juga ditempuh langkah taktis melalui implementasi branding TELKOM Solution Business Partner. TELKOM memposisikan diri sebagai mitra/partner bagi pelanggan dalam meningkatkan bisnisnya melalui berbagai solusi strategis yang ditawarkan. Langkah strategik lainnya adalah Winning on Bidding. Dari 80 proposal tender yang ditawarkan kepada pelanggan, 100% dimenangkan oleh TELKOM. Dalam hal ini sangat sulit bagi kompetitor untuk mengalahkan TELKOM kecuali jika terjadi kesalahan yang dilakukan TELKOM. Selain itu perlu pula adanya Implementasi Incentive Winning Team berupa pemberian insentif kepada team yang telah memenangkan bidding dalam skala besar. Hal ini adalah sesuatu yang wajar di dunia marketing atau sales dan menjadi pelengkap langkah strategik lainnya.
Contoh dari beberapa langkah Winning The Customer Mind Share di level operasional, berupa Integrated Marketing Communication di High End Market. Dengan menjadikan TELKOM sebagai pusat perhatian di berbagai media melalui pemberitaan yang baik dapat meningkatkan persepsi positif pelanggan. Hal lainnya adalah penyelenggaraan C2Care dan TSH (TELKOM Solution House) yang merupakan upaya service plus bagi pelanggan korporasi. Hadirnya C2Care Car merupakan bentuk kepedulian TELKOM dalam melakukan mobile services dan diharapkan dapat meningkatkan image/tangibility TELKOM di mata pelanggannya. Sedangkan TELKOM Solution House di Lobby Gedung Chase Plaza Jl. Sudirman Kav.21 Jakarta, adalah langkah nyata dalam mewujudkan TELKOM Solution Business Partner.
Strategi Diversifikasi Produk
Strategi diversifikasi bisa dijelaskan dengan menggunakan framework Product-Market Matrix oleh Ansoff. Matrix Ansoff ini membantu pengambilan keputusan strategis dalam business development, dengan mempertimbangkan pengembangan bisnis melalui produk lama/baru (existing/new products) di dalam pasar yang lama/baru (existing/new market).
Ada empat kombinasi product/market dalam matrix Ansoff yang menghasilkan empat pilihan strategi bisnis, yaitu:
1. Market Penetration : Existing products – Existing market
2. Product Development : Existing market – New products
3. Market Development : Existing products – New market
4. Diversification : New market – New products
Setiap strategi punya kelebihan dan kekurangan, sehingga perusahaan perlu mereview terlebih dahulu strategi mana (saja) yang bisa digunakan dan layak untuk situasi yang dihadapinya saat ini.
Strategi diversifikasi adalah sebuah strategi yang paling kompleks implikasinya , karena bagi perusahaan, ini akan menjadi pengalaman baru, baik dari segi pasarnya (new market), maupun dari segi produknya (new products). Pada dasarnya keputusan untuk melakukan diversifikasi akan mengandung resiko bisnis yang tinggi. Perusahaan harus melakukan studi kelayakan (feasibility study) terlebih dahulu, misalnya saja apakah channel distribusi yang baru akan cukup mendukung karena distribusi menjadi faktor utama keberhasilan produk. Demikian pula, harus diyakini bahwa produk baru tersebut memang sesuai dengan minat konsumen dimana perusahaan bisa memproduksinya dengan kualitas yang sama baiknya dengan produk-produk lamanya. Untuk mengurangi resiko kegagalan, biasanya dilakukan test market terlebih dahulu, artinya produk baru ini dicoba dipasarkan di kota tertentu sambil dimonitor sejauh mana penerimaan pasar/konsumennya. Setelah mempelajari hasil test market dan modifikasi produk apabila diperlukan, barulah produk dipasarkan di pasar yang lebih luas.
Sebelum mengambil keputusan diversifikasi, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu ketiga strategi lainnya. Bagaimanakah potensi produk lama untuk dikembangkan di pasar lama (market penetration), karena bisa jadi masih banyak yang bisa digarap disana. Pilihan berikutnya adalah pengembangan produk yang sudah ada ke pasar baru (market development), ataupun bila telah siap dengan pengembangan produk baru, pertimbangkan juga untuk memasarkan produk baru tersebut di pasar yang lama (product development).
Tentunya diversifikasi tidak selalu menjadi satu-satunya pilihan strategi bagi perusahaan. Yang sering dilaksanakan adalah strategi diversifikasi dikombinasi dengan satu dari ketiga strategi lainnya, apakah itu market penetration/product development/market development. Ini tergantung dari kesiapan perusahaan dari segi resources (people, money and time).
Mengenal segmentasi pasar juga dibutuhkan dalam Matrix Ansoff, khususnya untuk mengetahui peta penggunaan produk saat ini berada di segmen mana. Yang disebut dengan pengembangan pasar lama atau baru (existing dan new market) tidak selalu dari segi area geografis saja, tetapi bisa saja dari segi segmen pasarnya. Existing market merefleksikan segmen dimana produk kita sudah digunakan, sedangkan new market ditujukan untuk menjelaskan segmen yang baru/ belum digarap. Untuk memperoleh informasi tentang kekuatan/kelemahan produk kita di sebuah segmen, atau sampai dimana penetrasi sudah dilakukan, harus dengan penggalian informasi terus-menerus, melalui monitoring data penjualan di tiap segmen/area, hasil survei penggunaan produk di tingkat konsumen, dll. Disinilah peranan teknologi informasi dalam pemasaran, karena mengelola informasi/data yang begitu banyak dan kompleks hanya bisa disederhanakan dengan bantuan teknologi informasi.
-
Arsip
- Oktober 2008 (8)
- Maret 2008 (3)
- Januari 2008 (1)
- November 2007 (5)
- Oktober 2007 (3)
- September 2007 (18)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS