WiMAX masih Lamaaaaaaaaaa………
Meski koneksi wireless berbasis WiMAX telah banyak di jumpai di beberapa negara –bahkan Indonesia– namun tampaknya perjalananan protokol anyar nirkabel ini bakal masih panjang.
Apa pasal? Ada persepsi yang salah di kalangan operator jaringan komunikasi bahwa WiMAX bakal menggantikan eksistensi mereka dengan Voip dan Internet. Tak hanya itu, kalangan pengembang mobile device masih ragu-ragu dengan masa depan, kompatibilitas serta dukungan terhadap protocol baru ini.
Melihat kondisi yang ada, tak heran jika kalangan pengamat memperkirakan dibutuhkan waktu paling cepat 10 tahun mendatang, untuk membuat WiMAX mampu mencapai kondisi seperti Wi-Fi saat ini.
Saat dikonfirmasikan mengenai kondisi ini, Sriram Viswanathan, vice president, Intel Capital and general manager, WiMAX Program Office, Intel Corporation di sela-sela acara IDF San Fransisco secara tegas menolak perkiraan tersebut. Kelambatan perkembangan teknologi WiMAX lebih dikarenakan fenomena teknologi baru ketimbang keengganan dukungan pihak lain. Intel sendiri selaku inisiator dari protokol IEEE 802.16 (WiMAX) merasa berkepentingan untuk menepis sentimen negatif semacam itu.
Sriram mengatakan, “Meski WiMAX saat ini belum sepopuler seperti Wi-FI, namun Intel melihat masa depan yang cerah dan harapan baru di protocol ini. Kami lebih melihat ke depan ketimbang proses yang ada saat ini.”
Sriram menambahkan saat ini Intel tengah memfokuskan pengembangan WiMAX sebagai protocol utama jaringan komunikasi di 10 wilayah dengan potensi komunikasi data terbesar yakni China, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, India, Jepang, Komunitas Uni Eropa, Brazilia, Kanada, dan Meksiko.
“Kami memastikan bahwa kehadiran WiMAX adalah sebagai pelengkap industri selular dan tidak akan mematikannya, protokol baru ini nantinya akan memberikan keuntungan bagi banyak pihak mulai dari penyedia jasa telekomunikasi, vendor mobile gadget, ISV, ISP hingga penggunanya handphone itu sendiri.” Tandas Sriram menegaskan.
Intel sendiri saat ini tengah menjalankan kerjasama dengan lima vendor pengembang notebook terkemuka yakni, Toshiba, Lenovo, Asus, Panasonic dan Acer untuk mengimplementasikan teknologi WiMAX di semua produk notebook berplatform Santa Rosa dan Montevina terbaru mereka.
Meski Intel sendiri tengah serius untuk mengembangkan protokol ini, tentunya dibutuhkan waktu untuk dapat mewujudkannya, Tampaknya jalan WiMAX memang masih panjang, Setidaknya tidak di tahun ini dan mendatang.
Target Flexi vs StarOne
PT Telkom kembali merevisi target pelanggan yang dibidiknya hingga akhir tahun untuk layanan telepon nirkabel terbatas TelkomFlexi.Target pelanggan Flexi ditingkatkan menjadi 7 juta dari 6,2 juta yang dikejar hingga penghujung Desembar. Hal itu disebabkan semakin membaiknya kinerja migrasi frekuensi Flexi dari 1900 MHz ke 800 MHz. Akhir September ini sudah bisa overlay, hal itu membuat TELKOM harus cepat-sepat supaya bisa segera menggenjot jumlah pelanggan di tiga provinsi Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Telkom sendiri memiliki sekitar 800 dari 2.700 menara pemancar telekomunikasi BTS untuk layanan Flexi hingga kuartal ketiga tahun ini. Sedangkan jumlah rata-rata pemakaian pulsa Flexi per bulannya mencapai Rp 60 ribu.
PT Indosat Tbk.PT Indosat Tbk. menyambut baik rencana penurunan tarif interkoneksi seluler seiring diberlakukannya skema berbasis biaya pada awal 2008. Ini dinilai akan meningkatkan traffic pelanggan seluler lintas operator. Interkoneksi merupakan salah satu komponen utama dalam menentukan tarif layanan seluler. Dengan demikian, skema penurunan tersebut menurutnya bisa membuat Indosat lebih fleksibel dalam menurunkan harga. Dengan turunnya cost, kami lebih berpeluang memberikan harga yang kompetitif ke pelanggan
Selain memiliki layanan seluler, Indosat juga memiliki layanan telepon tetap. Skema berbasis biaya tersebut diperkirakan akan berimbas juga pada layanan telepon tetap nirkabel StarOne. Saat ini StarOne masih menerapkan tarif promosi Rp 19 per menit untuk sesama StarOne. Jadi sampai migrasi (frekuensi) kelar, tidak ada perubahan tarif. Namun, setelah itu tarif akan dipertimbangkan lagi, bisa naik bisa turun.
Mengacu pada skema berbasis biaya yang rencananya akan diterapkan pada awal 2008, tarif lokal dikhawatirkan naik karena tidak ada lagi subsidi. Tarif lokal sebenarnya antar pelanggan StarOne adalah Rp 197 per menit, dari StarOne ke pelanggan seluler Indosat Rp 300 per menit, sedangkan dari StarOne ke pelanggan non-seluler Indosat adalah Rp 700 per menit. Ini mengindikasikan ada kemungkinan tarif sesama StarOne meningkat lebih dari 10 kali lipat dari tarif promosi (Rp 19) ke tarif sebenarnya (Rp 197).
Target Pelanggan dan Infrastruktur
Untuk mencapai target 21-23 juta pelanggan sebelum akhir 2007 Indosat mengacu pada kekuatan infrastruktur jaringan dan harga layanan. Saat ini Indosat diklaim memiliki lebih dari 20 juta pelanggan seluler dan 600.000 pelanggan StarOne. Uniknya, separuh pelanggan StarOne berada di Surabaya sedangkan di Jakarta tak sampai sepersepuluhnya.
Hingga akhir tahun 2007 Indosat menargetkan pembangunan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) sebanyak 3.500-4.000 unit. Untuk mewujudkannya, Indosat memiliki anggaran belanja modal (Capital Expenditure) 2007 sebesar US$ 1 miliar. Hingga paruh 2007 Indosat telah membangun lebih dari 1.500 BTS. Awal 2007, Indosat baru memiliki 7.200 BTS. Sebelum akhir tahun ditargetkan Indosat akan memiliki lebih dari 10.000 BTS. Dengan BTS StarOne, total jadi sekitar 12.000. StarOne sendiri saat ini sudah memiliki 1.100 BTS di 23 kota. Hingga akhir tahun ditargetkan akan ada 1.500 BTS StarOne dengan jangkauan lebih dari 40 kota. BTS seluler dan CDMA yang dimiliki saat ini oleh Indosat, memberikan cakupan pada penduduk sebesar 95 persen di wilayah Kabupaten dan 60-70 persen untuk wilayah Kecamatan
Dalam memperkuat jaringan infrastrukturnya, Indosat membagi wilayah-wilayah berdasarkan vendor penyedia infrastrukturnya. Untuk infrastruktur seluler, Indosat menunjuk empat vendor yaitu Alcatel (Kalimantan), Ericsson (Jakarta-Banten), Nokia Siemens (Jawa dan Sumatera), serta Huawei (Sulawesi, Maluku, dan Papua).
Untuk 3G Indosat menunjuk Ericsson (Jakarta), Nokia Siemens (Pulau Jawa luar Jakarta), dan Huawei (Balikpapan). Sedangkan untuk CDMA, Indosat menunjuk Huawei (Medan, NAD, dan Jakarta) dan ZTE (20 kota lainnya).
22 Tanda Perusahaan Bermasalah
1. Declining profitability
2. Declining net worth
3. Declining sales
4. Lack of Growth
5. Increasing Debt
6. Cash Flow Problems
7. Declining current assets to current liabilities ratio
8. Declining quick asset ratio
9. Increasing expense to sales ratio
10.Declining market share
11.Dividend cuts
12.Increasing inventories
13.Increasing product returns
14.Declining capital investment
15.Problems with banks & lenders
16.Problems with Auditors
17.Management Problems (mis. lack of planning & commitments)
18.Milking subsidiaries (high cash flow to main company)
19.Too many businesses started
20.Inattention to public relations
21.Increasing legal expenses
22.large-scale stock sale by insiders
Marketing is Perception
Persepsi yang dimaksud adalah persepsi pelanggan terutama pelanggan korporasi terhadap penyelenggara layanan telekomunikasi. Untuk meningkatkan persepsi pelanggan terhadap TELKOM di tengah gencarnya aksi kompetitor, perlu diwujudkan upaya Winning The Customer Mind Share melalui langkah yang strategik, taktis dan operasional yang sinergis.
Langkah strategik yang perlu ditempuh untuk membentuk persepsi pelanggan antara lain:
- Pertama adalah implementasi strategi Enterprise Winning Way. Strategi ini diterapkan di DIVES dan dikenal dengan nama Magnificent-7 (M7) yang memiliki 4 Key Success, 8 Key Initiatives dan 16 Program Utama dengan Siprit “Together Nothing Impossible”.
- Kedua adalah penerapan Customer Centric yang diwujudkan melalui transformasi organisasi di lingkunan DITEWS, tujuannya adalah untuk lebih memfokuskan aktivitas pengelolaan pelanggan korporasi.
Selain langkah strategik dalam Winning The Customer Mind Share juga ditempuh langkah taktis melalui implementasi branding TELKOM Solution Business Partner. TELKOM memposisikan diri sebagai mitra/partner bagi pelanggan dalam meningkatkan bisnisnya melalui berbagai solusi strategis yang ditawarkan. Langkah strategik lainnya adalah Winning on Bidding. Dari 80 proposal tender yang ditawarkan kepada pelanggan, 100% dimenangkan oleh TELKOM. Dalam hal ini sangat sulit bagi kompetitor untuk mengalahkan TELKOM kecuali jika terjadi kesalahan yang dilakukan TELKOM. Selain itu perlu pula adanya Implementasi Incentive Winning Team berupa pemberian insentif kepada team yang telah memenangkan bidding dalam skala besar. Hal ini adalah sesuatu yang wajar di dunia marketing atau sales dan menjadi pelengkap langkah strategik lainnya.
Contoh dari beberapa langkah Winning The Customer Mind Share di level operasional, berupa Integrated Marketing Communication di High End Market. Dengan menjadikan TELKOM sebagai pusat perhatian di berbagai media melalui pemberitaan yang baik dapat meningkatkan persepsi positif pelanggan. Hal lainnya adalah penyelenggaraan C2Care dan TSH (TELKOM Solution House) yang merupakan upaya service plus bagi pelanggan korporasi. Hadirnya C2Care Car merupakan bentuk kepedulian TELKOM dalam melakukan mobile services dan diharapkan dapat meningkatkan image/tangibility TELKOM di mata pelanggannya. Sedangkan TELKOM Solution House di Lobby Gedung Chase Plaza Jl. Sudirman Kav.21 Jakarta, adalah langkah nyata dalam mewujudkan TELKOM Solution Business Partner.
-
Arsip
- Oktober 2008 (8)
- Maret 2008 (3)
- Januari 2008 (1)
- November 2007 (5)
- Oktober 2007 (3)
- September 2007 (18)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS