Studi: SMS Lebih Populer daripada Telepon
Mana yang lebih Anda suka? Menyampaikan pesan lewat layanan pesan singkat (SMS) atau telepon? Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ternyata SMS lebih populer daripada telepon.
Hal ini terungkap dari penelitian yang dilakukan Nielsen Mobile. Lembaga survei ini mengungkapkan bahwa rata-rata pengguna ponsel di Amerika berkirim 357 sms setiap bulan, dan hanya menerima atau melakukan panggilan telepon sebanyak 204 kali per bulan.
Menurut seorang profesor telekomunikasi, Rob Frieden, berkirim sms akan menjadi pilihan yang tepat saat kita berada di tempat di mana orang-orang tidak ingin terganggu dengan suara percakapan. Selain itu kerahasiaan isi pesan juga akan lebih terjaga saat kita ber-sms daripada melakukan panggilan telepon.
Namun, dikutip detikINET dari Collegian, Jumat (26/9/2008), ada juga orang yang lebih memilih telepon saat membutuhkan jawaban segera. Sementara itu, kalangan pelajar sedikit demi sedikit juga mulai meninggalkan penggunaan telepon kabel konvensional.
Welcome back
Waduh, ternyata sudah sangat lama aku tidak menulis lagi dalam Blog, gara-gara kerjaan numpuk jadi kelupaan punya Blog. Welcome Back, Honey…..
Syukurlah sekarang sudah punya Speedy di rumah, dengan kecepatan yang sangat lumayan akhirnya bisa nge-blog lagi….semoga dengan ini bisa mulai lancar nulis-nulis lagi.
Ada yang lucu dalam kejadian ini, Speedy tuch sangat-sangat kenceng kalau buka website dan ok banget untuk akses kemana-mana termasuk buka mail tapi kalau udah download jangan sekali-kali nyoba file gede apalagi ke Rapidshare, ditengah jalan pasti putus, udah puluhan kali aku coba tapi ya gitu terus ga pernah stabil…sampai bingung nich, apa yang terjadi dengan Speedy-ku ?
Coba kalau beneran bisa download, bisa aku pasang terus seharian untuk download e-books, lah wong bisa ngerti kemana-mana belajar dari e-books euy…ga mungkin khan sekolah lagi karena ga ada biaya..he.he.he
Belajar dari Naruto
Kagebunshin No Jutsu…..tuing…Naruto jadi banyak….Baru pagi ini kepikiran, begitu luar biasanya Naruto, saat ini penjual merchan dari produk Naruto sudah merambah kemana-mana, mulai dari kaos, spanduk, sticker, jam tangan, patung, gantungan kunci, mainan, kaos tangan, ikat rambut sampai semua assessories menggunakan model Naruto. Dan yang mengagumkan adalah anak-anak semua hapal dengan istilah-istilah aneh yang mungkin ditelinga kita agak geli…..Kagebushin No Jutsu…(mantra untuk memperbanyak diri – ilmu khusus Naruto).Naruta adalah suatu manga (cartoon Jepang) karya dari Masashi Kishimoto, sudah 2 juta volumes terjual di US dan lebih dari 80 juta di Jepang sendiri. Volume 7 adalah pemenang dari Quill Award 2006 dalam kategori Novel Graphic terbaik. Saat ini termasuk dalam 150 book list di US yang paling TOP.So, belajar dari Naruto, apa yang digarap adalah segmentasi yang jelas yaitu overall children, targetting dari kartoon ini adalah anak muda dan positioning adalah sebagai entertainment dan education (jiwa korsa, tolong menolong dan kepahlawanan).Saat saya melihat Naruto, terus terang agak bingung, apa bagusnya seorang anak dengan jaket orange dan terus terang gaya bertarungnya ga hebat-hebat amat, namun dia konsisten membantu teman-temannya. Disini saya terus berpikir kok seperti Flexi yang….seakan-akan Naruto ini bisa menjelma sebagai Flexi yang begitu dikagumi anak-anak dan mereka rela untuk berbelanja asesoriesnya.Flexi, saat ini mengalami penurunan akibat dihajar oleh kompetitor, dengan price war yang gila-gilaan dan berbagai strategi yang senantiasa membuat kita terkaget-kaget. Dalam kaitan ini, apakah pernah kepikir oleh kita semua bahwa Flexi adalah produk terbaik yang pernah dibuat oleh TELKOM ? Kita lihat saja dengan kondisi masih prematur, sudah berhasil mendapatkan 6 juta pelanggan dan target tahun 2008 ini adalah melampaui Fixed Line. Sebagai member TELKOM, tentunya kita semua berbangga dengan produk ini, sekalipun terkadang Drop Call dan Performansi layanan masih sering terjadi, namun improvement terus senantiasa dilakukan.Kembali ke Naruto, saya berpikir seandainya bisa dilakukan Co-Branding dengan produk Flexi, tentunya dari segi Voucher isi ulang akan banyak dikoleksi oleh anak-anak, kemudian untuk pesawat Flexi yang dibundle dengan nomor Flexi bisa dibuat chasing dari Naruto ini dan dijual ke sekolah-sekolah. Saya rasa hanya dengan memanfaatkan image Naruto ini akan bisa mendongkrak penjual Flexi baik dari segi terminal, nomor maupun voucher isi ulang (untuk dikoleksi ?). Buat saja dengan special edition tanpa perlu untuk banting-bantingan harga.Perhitungan saya adalah, kita ambil asumsi ada sekitar 1 juta anak di Indonesia, dimana setiap terminal Flexi yang dilengkapi perlengkapan Naruto ini dijual dengan harga Rp. 250 ribu. Maka akan diperoleh sekitar 250 M dari penjualan terminal. Bila kita lihat dari Nexian atau Sanex bisa menawarkan terminal dengan harga Rp. 150 ribu (skala 1 juta terminal). Maka TELKOM akan mendapatkan profit kurang lebih sekitar 100 M (dipotong biaya masuk, asessories naruto dsb). Ditambah lagi dari Voucher isi ulang Flexi, dengan asumsi ada 100 image Naruto dan teman-temannya, bila dikalikan dengan harga Voucher Rp. 10 ribu, bisa diperoleh satu set Naruto series sebanyak 1 juta yang bisa dipake 1 tahun dan kartunya bisa dikoleksi untuk dipertukarkan antar penggemar Naruto. Ini bisa dikalikan dengan 1 juta anak tadi.Apa lagi kalau bisa dikerjasamakan dengan outlet assessories seperti Strawberry, Naughty dsb dimana bukan hanya outlet handset yang bisa menjual assessories ini. Bekerjasama dengan GameMaster atau TimeZone untuk kontest adu kartu Naruto (sedang in dibeberapa kota besar) dan dengan adanya pertandingan Playstation atau komputer network, akan menjadi media untuk promosi yang sangat luar biasa.Perlu diketahui bahwa anak-anak sekarang menjadi pengaruh terbesar bagi orang tua dalam pemilihan teknologi telekomunikasi yang digunakan. Beberapa saat yang lalu dilihat dari market size anak Indonesia bisa mencapai 4 trilyun dan terus tumbuh dengan pesat.Saat kompetitor berperang dengan tarif, kenapa Flexi tidak belajar dari Naruto, mulailah menggarap sektor anak-anak yang belum dilirik oleh operator lain, tidak banyak komplain dan sangat mudah untuk membeli sesuatu.Marilah kita coba berpikir lebih jauh untuk menggarap sektor ini demi kemajuan TLEKOM juga. Dan yang terpenting adalah marilah kita belajar dari anak-anak kita, terkadang mereka memiliki banyak sekali idea bagus yang tidak terpikir oleh kita semua.
Memahami Masalah
Saat ini saya sedang berpikir keras, kenapa anak saya suka bermain ke rumah temannya dibandingkan dengan bermain di rumah sendiri, padahal semua kebutuhannya sudah dipenuhi. Anak saya sampai menangis ketika dilarang, padahal pagi hari sudah sempat main kerumah temannya itu, namun sore hari dia kepengin untuk main lagi kesana. Ketika saya tanyakan, main apa sich disana, anak saya bilang, maen komputer seperti biasa, games dan kapal-kapalan. Namun feeling sebagai orang tua, ada something wrong yang terjadi. Saat saya desak, dia akhirnya menangis, namun satu hal yang saya pelajari, ada kehilangan saat-saat bermain dengan teman-temannya. Saat anak saya dipersilakan untuk main sepuasnya, ternyata temannya itu malahan les private sepanjang waktu. Jadi waktu untuk bermain yang biasanya dilakukan anak saya dengan temannya itu mulai berkurang. Saat saya berpikir bahwa anak seumuran anak saya seharusnya banyak main, malahan keliru, karena ternyata teman-temannya semua pada les private dan sibuk dengan agenda yang lebih heboh dibandingkan saya dikantor.Ternyata kehidupan anak sekarang sudah berbeda, dari kecil sudah di pacu untuk belajar dan belajar, saat bermain makin kurang. Dan memang betul, anak saya sekalipun tidak pernah mendapatkan nilai dibawah 8, dengan rata-rata kelas diatas 8, masuk sebagai rangking paling rendah. Kalau sudah begini, sebagai orang tua, apakah saya harus memacu anak saya, atau membiarkan dia berkembang apa adanya ?
10 FENOMENA BRAND
I. PENDAHULUANMembangun sebuah Brand bukanlah pekerjaan yang mudah, terlebih lagi menumbuhkan brand local ditengah persaingan Global Brand atau melahirkan Local Brand untuk bersaing di International Market. Upaya yang dilakukan untuk melahirkan dan membesarkan brand memerlukan biaya dan tenaga yang tidak sedikit, bahkan seringkali memerlukan kesabaran karena waktu yang cukup panjang untuk menciptakan Brand yang memiliki value yang tinggi. Pada sisi lain, faktor ancaman kegagalan Brand juga menjadi kendala berikutnya, termasuk pertimbangan probability factor keberhasilan yang sulit untuk diprediksikan secara pasti. Melihat beratnya perjalanan lahirnya sebuah brand tangguh, nampaknya perlu menelaah lebih dalam beberapa kasus yang dapat mengancam eksistensi dan daya saing brand-brand tersebut.II. BRAND EQUITY CONCEPTBrand yang dipersepsikan dalam pembahasan ini merupakan Brand dalam konteks Brand Equity, brand yang bukan sekedar identity tetapi Brand yang memberikan added-value untuk sebuah produk. Dengan demikian Brand Equity dalam konteks ini dapatlah didefinisikan sebagai sekumpulan assets (dan liabilities) yang berkaitan dengan sebuah nama atau symbol yang memberi nilai tambah bagi produk (termasuk jasa) untuk perusahaan atau customer perusahaan penyedia produk atau jasa tersebut.Pada dasarnya Brand Equity terbentuk dari sedikitnya 5 komponen, yaitu: Brand Awareness, Brand Loyalty, Perceived Quality, Brand Association, dan Other Proprietary Brand Asset. Brand Awareness dan Brand Loyalty akan mendorong dan berkontribusi terhadap peningkatan kinerja sales, sedangkan Perceived Quality, Brand Association serta Other Proprietary Brand Assets memberikan added-value pada sebuah produk. Brand Loyalty lebih ditekankan pada users, sedangkan Brand Awareness, Perceived Quality dan Brand Associations terjadi pada proses keputusan membeli dan Other Propiretary Brand Assets lebih untuk kepentingan penciptaan perlindungan brand dan eksklusifitas dalam kaitannya dengan competitiveness. Komponen-komponen Brand Equity ini secara bersama-sama akan men-generate value.III. “10 FENOMENA”Global Brand versus Local BrandMeskipun diakui bahwa Global Brand memiliki daya tembus pasar yang tinggi, namun tidak menjamin, bahwa brand tersebut mampu memiliki performance competitiveness di semua area pasar. Local Brand seringkali menjadi dominator pasar lokal. Sebagai contoh, bagaimana Coca-cola yang menjadi The World most Valuable Brand, mendapat tantangan yang sangat keras dari Original Local Brand seperti teh Sosro. Berbagai contoh local brand unggulan dapat dicontohkan antara lain seperti di Cina: TCL, Haier, Tsingtao, di Meksiko : Bimbo, Telmex, Banamex, Cemex, di Australia: Telstra, Billabong, atau Singapura: DBS, OCBC, UOB, Tiger Balm, Sing Tel atau Singapore Airline. Brand-brand lokal tersebut memiliki keungggulan tinggi, bahkan telah berekspansi memasuki pasar global. Sebaliknya Coca-cola, global brand, mulai memikirkan pula untuk “think locally”, tahun 2000, CEO Coca-cola, Douglas Daft, mencanangkan “think local, act local” Marketing Strategy dan kini memiliki 100 local beverages di seluruh dunia, dan di Indonesia juga meluncurkan FreshTea dan mengakuisisi salah satu brand air mineral lokal.Pentingnya Investasi Brand melalui Brand Equity dalam rangka menumbuh kembangkan value dilakukan oleh banyak perusahaan karena berhubungan erat dengan upaya peningkatan earning dan cash flow perusahaan, bahkan bagi beberapa perusahaan besar brand menjadi salah satu ukuran penting untuk penentuan nilai saham (stock price), P/E Ratio dan Market Valuation.Nama brand unggulan telah menjadi jaminan bagi pasar investasi dan mampu memberikan kontribusi yang sangat dominan dalam menentukan Market Valuation yang tinggi. Meskipun Brand merupakan intangible asset, namun nilai pasarnya sangat luar biasa (lihat table).Sebagai contoh, Coca-cola Brand, yang pada akhir-akhir ini selalu menduduki ranking tertinggi Brand Value termahal di dunia, kuatnya Coca-cola Brand di mata investor seolah-olah menjadi dominasi untuk penentuan market value/stock price Coca-cola dan performance perusahaan bukan lagi menjadi isu yang dominan. Kepentingan investor ini semacam ini hanya merupakan kepentingan jangka pendek, secara jangka panjang kondisi ini tidak menguntungkan perusahaan.Bias Against InnovationKirin Beer cukup terkenal di Jepang dengan market-share 60% dalam empat dekade, tetapi dengan hadirnya pendatang Asahi Dry yang diterima konsumen sebagai innovator, maka market share-nya turun dibawah 50%. Kirin lebih suka mempertahankan status quo dan beranggapan bahwa dalam beer category tidak ada alasan yang kuat untuk diubah.Brand SwitchingKasus menarik Brand switching dalam kondisi krisis moneter yang parah seperti yang terjadi tahun 1997 di Indonesia mungkin menjadi kasus yang cukup langka. Beberapa brand leader yang pada umumnya mendominasi market share, tidak cukup mampu mempertahankan brand loyalty-nya. Brand leader seperti Rinso, yang tidak diragukan lagi Brand Equity-nya di Indonesia, nampaknya tidak mampu menahan lahirnya brand baru seperti Daia pada waktu itu. Kekuatan brand menjadi sangat lemah dan terjadi negative-leverage, keputusan membeli konsumen bergeser dari pertimbangan brand menjadi menjadi pertimbangan functional.Sales ProblemsStar Buck yang banyak dibahas sebagai case study menarik di bidang marketing akhir-akhir ini, bahkan menjadi salah satu contoh classic dalam pembahasan experiential marketing, harus menghadapi masalah sales dibeberapa negara. McDonald harus bersusah payah terus-menerus berinovasi dengan resep-resep barunya serta menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk marketing campaign untuk mempertahankan sales-nya. SLI-008 dalam ceruk pasarnya yang kecil dibandingkan SLI-001, salesnya sangat tergantung pada ads, padahal brand ini cukup familiar bagi customer pengguna jasa saluran internasional.PiracyDunia bisnis sekarang ini sedang menghadapi perang terhadap Piracy Product, bahkan Amerika sendiri sampai menerbitkan black-list negara-negara pembajak yang tidak disukai Amerika, termasuk di dalamnya pemalsuan Brand. Berdasarkan survey Business Software Alliance (BSA) kerugian terbesar pembajakan software tahun 2002 sebesar 43% dikontribusikan oleh Asia Pasifik, dan Cina menjadi salah satu Negara dengan tingkat piracy tinggi. Gambaran piracy tersebut umum terjadi dengan berbagai produk dan brand, sekaligus menjadi cerminan tingginya ancaman serius bagi brand yang semakin tidak memiliki privacy dalam mempertahankan competitiveness-nya.New BrandsMie Instan, nampaknya menjadi contoh baik di Indonesia. Indomie dan keluarga produk mie Indofood yang menguasai pangsa pasar terbesar mie instant, selalu berupaya untuk meningkatkan diversifikasi aneka macam jenis/varian mie instant. Dominasi brand Indomie, yang bahkan sudah menjadi generic brand, tetap saja terganggu dengan brand-brand baru, bahkan secara guerrilla brand-brand baru mampu menjadi pemimpin pasar di daerah, seperti contohnya penguasaan pasar mie instant di daerah Medan oleh pendatang baru Alhami. Bahkan secara serius dengan model persaingan frontal, Mie Sedap, kelompok Wing sebagai pendatang terbaru juga mampu mengambil share dari the leader.Me Too product,Nabisco telah menghabiskan dana $ 34 juta untuk Oreo-related ads di tahun 2001 dan berhasil dengan pertumbuhan sales 7,5% di tahun 2002, empat kali rata-rata pertumbuhan sales dalam kategori industri yang sama. Namun, keberhasilan ini tidak begitu mudah untuk dipertahankan. Respon follower atas keberhasilan ini nampak sekali dengan munculnya berbagai macam brand (me too product) yang mengikuti dan mendompleng popularitas Oreo.Fragmentation MarketAqua, sebagai pemimpin pasar, harus menghadapi kenyataan, bahwa medan persaingan tidaklah sebatas brand papan atas, upaya yang dilakukan untuk bertahan sebagai premium brand masih memerlukan endorsement dari Danone, di sisi lain, peranan brand kelas bawah menyebabkan ancaman bagi Aqua cukup besar, termasuk Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) kelas paling bawah, serta substitusi Air Mineral Isi Ulang. Persaingan dengan segmentation model yang lebar ini terjadi karena fragmentasi pasar akibat industry attractiveness yang tinggi pada industri AMDK. Persaingan seperti ini akan memerlukan banyak biaya dan tenaga untuk dapat mempertahankan posisi brand, terlebih lagi sebagian konsumen yang merupakan brand seekers atau bahkan tidak perduli terhadap brand.ComodityDualisme pandangan mengenai brand dan anti brand perlu mendapat perhatian pula. Kaum Marketing seringkali mengesampingkan ancaman ini bagi brand. Namun secara signifikan sebagian besar produk, market share-nya dikuasai oleh non-brand atau sering disebut Comodity, meskipun added-value-nya tidak tinggi, atau bahkan pada commodity tertentu, added-value-nya mendekat cost. Sebagai ilustrasi, industri minyak goreng di Indonesia, sebagian besar dikuasai oleh pasar minyak goreng curah, sedangkan branded product, seperti Bimoli, Filma, dan brand lainnya tidak lebih dari 30% total pasar minyak goreng.
Agar Produk atau Jasa Anda Diingat Sepanjang Hayat
Dahulu, ketika kita memasarkan suatu produk atau jasa, maka kita cukup mengandalkan feature (karakteristik, sifat atau ciri-ciri) dan benefit (manfaat atau kegunaan) agar produk atau jasa kita bisa laku dan tetap dibeli oleh pelanggan kita. Tapi, sekarang feature dan benefit saja terkadang kurang cukup agar kita tetap exist di pasar, karena ternyata para pesaing kita bisa meniru bahkan menyamai produk yang kita jual ke pasar. Lalu muncullah hal-hal yang intangible seperti pelayanan atau service agar feature dan benefit produk bisa hadir 'lebih bermakna' di benak customers. Itupun saat ini seringkali masih belum cukup juga, mengingat semakin hari tingkat kompetisi semakin severe dan kompleks. Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan market share dan profitabilitas ? Jawabannya adalah menyangkut customer's memory. Apakah produk atau jasa kita memorable (menciptakan kenangan yang indah) bagi customers kita ? Apakah produk atau jasa kita bisa lengket di heart (hati) & mind (pikiran) para customers. Dari situlah maka muncul istilah Experiential Marketing, yaitu suatu pendekatan pemasaran yang mengupayakan agar para customers memiliki suatu pengalaman yang tak terlupakan ketika akan, sedang atau telah membeli produk atau jasa kita. Caranya adalah dengan menyentuh sisi emosional customers lebih dalam lagi, bukan lagi sekedar sisi rasionalnya. Bernd H. Schmitt, pakar pemasaran dan guru besar dari Columbia Business School, USA, dalam bukunya Experiential Marketing : How to Get Customers to Sense, Feel, Think, Act & Relate to Your Company and Brands, mengupas dengan sangat menarik apa dan bagaimana Experiential Marketing (EM) itu. Ia mengemukakan adanya 5 unsur penting dalam EM, yaitu sense, feel, think, act dan relate. Unsur-unsur ini perlu kita ketahui lebih detail agar kita bisa memilih dan memastikan unsur yang mana saja yang bisa kita terapkan ke produk atau jasa kita. Mungkin tidak semua unsur dapat diaplikasikan secara bersama-sama. Mungkin hanya satu atau dua unsur saja yang bisa kita pakai. Semuanya tergantung kepada jenis barang atau jasa Anda, struktur persaingan, segmen pasar yang dibidik dan sebagainya. Unsur yang pertama, sense adalah bagaimana agar produk atau jasa kita bisa dirasakan oleh panca indra kita (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit). Ini adalah unsur yang paling sederhana yang bisa diterapkan. Semakin banyak indra yang bisa merasakannya, maka semakin besar kemungkinan produk kita menjadi memorable. Mengapa ? Karena setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam menyampaikan informasi ke otak lewat panca indra. Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming), dikenal ada orang yang bertipe visual (lebih peduli pada apa yang dilihat), auditory (lebih peduli pada apa yang didengar) dan kinestetik (lebih peduli pada apa yang mereka sentuh atau rasakan). Jadi, dengan melibatkan semakin banyak indra, maka semakin banyak orang yang bisa kita jangkau (untuk masuk ke memori mereka). Apakah Anda pernah antri untuk membeli roti di Bread Talk atau donat J-Co ? Lalu mengapa orang-orang rela ngantri hanya demi untuk sepotong roti ? Penyebabnya adalah karena mereka sukses menyampaikan pesan produknya ke otak Anda melalui beberapa indra yang terlibat. Pertama, dari jarak yang agak jauh Anda sudah membaui (dengan hidung) aroma roti yang 'harum' dan mengundang Anda untuk mendekat. Semakin dekat semakin merangsang baunya. Setelah dekat, Anda bisa melihat dengan mata kepala Anda sendiri proses pembuatan roti (melalui kaca transparan) untuk menggugah Anda bahwa roti mereka fresh from the oven. Kemudian Anda masuk ke gerai mereka dan sebelum membeli-pun lidah Anda akan dibuat ngiler dengan berbagai bentuk roti yang di-display dengan sangat menarik. Satu lagi, bagi Anda yang kinestetik, barangkali tindakan mengantri, mengambil nampan, memilih roti, mengantri lagi dan membayar di kasir menciptakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Ini adalah sebuah proses emosional, karena secara logika koq mau-maunya Anda dikerjain oleh si Break Talk. Unsur kedua, feel adalah bagaimana menciptakan perasaan enak (feel good) bagi para customers, yaitu dengan melibatkan mood dan emosi secara lebih intens lagi. Beberapa acara reality show di televisi seperti AFI, Indonesian Idol atau MamaMia adalah beberapa contoh produk yang sukses memanfaatkan emosi para penonton agar mereka terus mengingat dan menontonnya kembali. Sebagian dari Anda mungkin juga pernah mengirim SMS dukungan ke salah satu kontestan, padahal barangkali Anda tidak mengenal kontestan itu, hanya karena emosi Anda bangkit dan menggerakkan Anda untuk melakukan sesuatu. Unsur ketiga, think adalah upaya yang perlu diciptakan agar customer mau ber-positive thinking kepada produk atau jasa Anda setelah customer Anda merasa baik (feel good). Ini dapat menciptakan customer satisfaction yang lebih berjangka panjang. Dengan demikian diharapkan akan timbul word of mouth (promosi dari mulut ke mulut) yang baik bagi produk Anda. Kampanye iklan Apple Computer 'think different' adalah contoh iklan untuk menggugah orang agar mau 'positive thinking' kepada produk Apple. Unsur keempat, act adalah upaya yang diarahkan bagi terciptanya pengalaman melalui perilaku tertentu dari customers, baik berupa tindakan individual maupun gaya hidup seseorang. Tindakan yang diambil seseorang dipengaruhi oleh faktor luar dan opini di dalam dirinya. Tugas Anda sebagai experiential marketer adalah menggabungkan pengaruh eksternal dengan feel dan think agar customer melakukan tindakan dan punya pengalaman tersendiri. Iklan Oreo di televisi 'diputar, dijilat dan dicelupkan' barangkali merupakan upaya agar calon customer selalu terkenang dengan Oreo dengan tindakan 'diputar, dijilat dan dicelupkan' tadi. Contoh lain, kalau Anda pernah ke Jogja, cobalah mampir ke Bakmi Mbah Mo (lho koq malah promosi he.he.). Dengan datang kesana, maka Anda akan memiliki pengalaman yang tak terlupakan karena tindakan Anda yang telah berjuang masuk ke pelosok terpencil di daerah Bantul sana, mungkin lebih dari 10 KM dari Jogja, masuk ke jalan tak beraspal lagi. Warungnya juga relatif sederhana, memasak mie pakai arang tapi koq tetap exist setelah puluhan tahun. Unsur yang terakhir adalah relate, yaitu bagaimana sensasi, feeling, thinking & action seseorang tadi, jauh diperbesar lagi ke arah konteks sosial dan budaya. Jadi relate menghubungkan customers secara individual dengan masyarakat atau budaya tertentu. Ini merupakan daya tarik yang paling dalam bagi customers Anda. McDonald dan juga Starbucks adalah dua perusahaan yang telah berhasil menerapkan unsur relate. Contoh lain, banyak orang memakai motor Harley Davidson, bukan karena kualitas motornya yang bagus melainkan karena HD sudah menggambarkan gaya hidup tententu bagi pemakainya apalagi dengan adanya komunitas HDCI yang cukup fanatik dengan segala atribut HD-nya, termasuk juga kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukannya. Itulah sekilas tentang 5 unsur EM ala Bernd H. Schmitt. Anda perlu mulai memikirkan jenis yang mana dari kelima jenis pengalaman (experiences) diatas yang bisa diaplikasikan untuk produk atau jasa Anda. Harapannya adalah agar customers Anda selalu ingat, mau kembali lagi dan tidak pindah ke lain hati. Jadi, sudah saatnya untuk menawarkan suatu pengalaman yang tak terlupakan bagi customers Anda, sesuatu yang memorable, sesuatu yang bakal diingat pelanggan Anda sepanjang hayatnya. Tapi ingat ! Jangan sekali-kali melupakan feature, benefit dan intangible. Karena ketiganya juga merupakan prasyarat agar produk atau jasa Anda benar-benar bisa disebut berkualitas. Wish You Luck
4 hal agar TELKOM tetap di hati Masyarakat
Dalam pemerataan kepentingan sosial di bangsa ini, bukan hanya pemerintah saja tetapi didukung oleh perusahaan-perusahaan lain. Salah satunya adalah TELKOM dimana terdapat 4 hal yang perlu diketahui mengapa TELKOM harus ada di Masyarakat. Pertama, TELKOM merupakan perusahaan BUMN yang masih Indonesia. Luasnya NKRI membuat TELKOM menyadari bahwa masyarakat perlu mendapatkan hak fasilitas yang sama. Pertanyaannya “apakah manajemen TELKOM ini sangat committed dengan apa yang pernah dicanangkan”. Kedua, Adanya pemerataan fasilitas Speedy, maka secara teknologi informasi semua informasi mengenai segala aspek dapat didapat dengan mudah dan cepat. Dan apabila ini dapat terjadi maka kesenjangan antara Pusat dan daerah yang selama ini telah menjadi diskusi dapat diminimasi.
Ke-Tiga, teknologi internet merupakan 2 mata panah yang berbeda ada sisi negatif dan positifnya terlebih penggunanya sebagaian besar para anak muda. Oleh sebab itu masih diperlukannya bimbingan kepada pengguna internet agar fasilitas ini secara maksimal benar-benar dapat dipetik manfaatnya. Karena secangih apapun tehnologi pasti punya efek samping yang positif maupun negatipe. Tetapi efek positip yang banyak memberi manfaat yang besar bagi kemajuan bangsa, mari kita pikirkan bersama. Ke-Empat, TELKOM bukan hanya memikirkan prospek bisnis saja, tetapi membantu masyarkat yang tertimpa musibah adalah salah satu bentuk program TELKOM melalui CDC baik dari Korporate maupun Divre.
Dalam kancah persaingan bisnis, TELKOM tetap mementingkan hal penting bagi kepentingan masyarakat, harapan kami dengan kehadiran produk TELKOM ini tentu-nya tidak saja mendapat sambautan baik, tetapi dengan nasionalisme yang ditunjukan dan merupakan kebanggaan kita untuk selalu mengunakan produk yang dimiliki oleh perusahaan bangsa kita sendiri.
Frame Work for Business Telkom
Frame Work for Business Telkom terdiri dari
(1) Malcom Baldrige for Performance Excellence,
(2) Human Capital Management,
(3) Strategic Human Capital Management Pillars Leveraging Human Capital Management to Performance Excellent, dan
(4) Lessons Learned Sharing Telkom Implementation.
Human Capital adalah manusia yang ada dalam perusahaan dengan segala keunikannya (skill, knowledge, attitude, aptitude, expertise, experience, ellgibilty, ability, suitability, authority, training, education, creativity, dan nilai tumbuh lainnya), yang membentuk sebagai kekayaan korporasi, biasa disebut talent.
Ke depan yang dibutuhkan adalah talent skill serta team work yang berhubungan dengan vendor dan regulator. Talent orang-orang yang memberikan impact ke bisnis. Inilah perubahan Human Resources ke Human Capital. “Di Telkom yang dikelola dalam Human Capital Management-nya adalah brain orang itu, bukan individunya, agar dia bisa memberi result ke bisnis. Brain pegawai dimasukkan ke server, apabila dia ingin keluar dari Telkom, silahkan.. karena brain orang itu sudah ada di Telkom. Ini yang dinamakan Learning Organization, artinya walaupun dia pergi organisasinya masih berkembang”.
Untuk mengukur personal itu Telkom menggunakan Competency Base Human Resources Management (CBHRM). Telkom menilainya dari K1 hingga K5. K1 yang terbaik dan K5 yang terburuk. Semua pegawai mendapat K3 berarti human resources manajemennya sudah bagus, tinggal impactnya ke bisnis tidak? Sekarang bersaing bukan pada produknya lagi tetapi talent orangnya, dan melihat talent competitor, dan lebih luas lagi melihat negaranya.
Contoh, sekarang banyak perusahaan mengejar nilai Malcolm Baldrige diatas 500. Ia pun pernah bertanya pada Paul Steel, apakah ciri-ciri perusahaan yang sudah memperoleh nilai Malcolm Baldrige 600, seperti Perusahaan Boeing? Dijawab Paul Steel, bukan nilai yang dicari, tetapi adakah dampak ke bisnis perusahaan itu. Contohnya bila masuk sebuah perusahaan yang besar di lobby tidak ada lagi pegawai yang duduk ngobrol walaupun sebentar, atau di dalam ruang kerja pegawai tidak ada pegawai ngobrol untuk menarik perhatian rekan kerja yang lain atau ketawa-tawa. Apakah hal ini masih ada?
Contohnya yang sederhana, Telkom masuk 650 perusahaan di dunia. Targetnya masuk 500 perusahaan di dunia. Bila masih memakai personal management apakah Telkom bisa mencapainya? Jadi untuk mengukur sukses atau tidaknya ada pada bisnis performancenya, dengan kredo kerja bagus, karir dan uang akan mengikutinya.
Telkomsel memang OK!
Telkomsel menawarkan skema tarif alternatif kepada pelanggan Simpati yang menginginkan percakapan telepon sepuasnya ke pelanggan antarsesama jaringan. Namun untuk mendapatkan benefit itu, pelanggan Simpati harus rela dipotong pulsanya sebanyak Rp 25 ribu jika ingin bisa menelepon sepuasnya sejak pukul 07.00 hingga 22.00 di hari yang sama. Begitupun untuk hari-hari selanjutnya, pelanggan Simpati cukup mengetik Talkmania dan mengirimkan SMS aktivasinya ke nomor 8999, di mana setiap harinya Telkomsel memberikan kesempatan bagi 100.000 pendaftar pertama untuk menikmati layanan ini.
Seiring dimulainya program promosi ‘bebas telepon’ yang berlaku 27 September hingga 26 Oktober 2007, Telkomsel juga mengumumkan perpanjangan Bonus Bicara dan SMS hingga tahun depan, 31 Januari 2008. Bahkan kini pelanggan bisa memakai bonusnya dengan durasi tiga jam lebih lama dari sebelumnya, yakni jam 10 malam hingga 10 pagi.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa angka ARPU dari GSM mulai turun hanya tinggal 60K, hal ini didorong dari kondisi kompetisi yang begitu pesat perkembangannya. Perang harga tidak bisa dihindari lagi sehingga pelanggan semakin dimanjakan dengan penurunan harga, dan tentunya hal ini harus bisa diantisipasi dengan dini.
Telkomsel mengeluarkan promosi ‘bebas bicara’ merupakan salah satu strategi yang sangat menarik, dengan strategi ini, maka pelanggan terutama pelanggan Simpati diberikan suatu cara baru dalam menentukan kapan mereka akan memakai telepon-nya. Dengan strategi bebas bicara, dengan 25K/hari, pelanggan Simpati akan mendapatkan kemudahan tanpa ditentukan lagi waktu sibuk atau berapa lama menelpon.
Hal ini sesuai dengan salah satu strategi yang banyak diusulkan untuk peningkatan revenue dari suatu produk, yaitu:
–Maksimalkan pelanggan yang sudah ada dengan jalan:
•Meningkatkan FREKUENSI pembelian dari pelanggan.
–Frequent Call
–Service bukan price
–Mempererat hubungan dengan customer
•Meningkatkan KUANTITAS pembelian dari pelanggan.
–Bundling Services – add more.
–Salesmanship – offering more.
•Meningkatkan VALUE (Rp) pembelian dari pelanggan.
•Kombinasi dari program diatas.
Kenapa Simpati, sudah jelas karena pemakaian terbanyak dari GSM di Indonesia masih dipegang oleh Telkomsel dengan Simpatinya. Hal ini mendorong dari segi volume. Dan bila dilihat dari revenue yang diperoleh akan terjadi peningkatan yang cukup signifikan, yaitu dari ARPU 60K meningkat pesat menjadi 750K (25K/hari x 30). Disini terlihat bahwa Telkomsel benar-benar memperhatikan segmentasi pasar dan melihat kondisi persaingan yang ada dimana terjadi perebutan mind share pelanggan pra-bayar GSM dengan jor-joran di harga, namun kecerdikan dari Telkomsel, sekalipun terkesan memotong harga, sesungguhnya adalah usaha peningkatan ARPU yang dilakukan, disamping peningkatan frequenly usage (dengan membuat bebas bicara per hari).
Strategi marketing semacam ini sebenarnya sangat bagus, dimana beberapa keuntungan bisa diperoleh:
1. Peningkatan ARPU
2. Peningkatan usage / traffik
3. Peningkatan jumlah customer
4. Peningkatan loyalitas pelanggan
5. Peningkatan citra perusahaan.
Dari sini banyak hal yang bisa diambil pelajaran bahwa, dengan melihat kekuatan internal, maka kita bisa menentukan strategi untuk menghadapi kompetisi.
Bravo Telkomsel.
Something to remember….
Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya. Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu. Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu. Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat. Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun. Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia. Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik. Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik. Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu . Mother Theresa.
-
Arsip
- Oktober 2008 (8)
- Maret 2008 (3)
- Januari 2008 (1)
- November 2007 (5)
- Oktober 2007 (3)
- September 2007 (18)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS