Henrisetiawan’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Cerita Seputar Link Putus

Akses ke  website luar negeri ada masalah?   Yang  di  laut  kan  sudah  lebih dari 10 hari putus. dan memang sdh   dialihkan  ke  jalur  darat.  Seharusnya kalau sudah 10 hari putus, dan hanya   mengandalkan  jalur  darat  sudah  bisa  membuat  kontigensi,  dan  statusnya  sudah darurat. Jalur darat harus dibuat dua jalur juga.  Terbukti yang darat ambrol juga. Jadi tidak bisa berbangga kita punya 2 jalur.   Karena kalau 1 jalur putus (skkl) time to repairnya lama sekali.

Sejak terputusnya SKKLTJN-TPS km 39.5, seluruh  Area  Network  Infratel khususnya yang dilalui Network Ring I Jasuka   melaksanakan  SIAGA  1  dengan melaksanakan patroli setiap hari pada   rute  FO backbone dan menyiapkan link kontingensi E1 via GMD Transum   I  Ch-X sejak  terputusnya  SKKL.  Namun  bisa  dibayangkankan…   kapasitas Jasuka yang saat ini operasi 2 x STM-64 versus GMD Transum   I PDH 140 Mbps ~ 64E1 ? Itu  salah  satu upaya antisipasi bila terjadi putus FO didarat   karena  kami  dan juga manajemen pasti tahu jika dengan kondisi SKKL   demikian  dan  FO darat putus, pastiSumatera…outage. Dan saat  FO darat putus, kami fokus untuk menghidupkan Jasuka dulu.

Kontingensi  FO  darat kami upayakan dengan mencoba FO RMJ maupun FO backbone  dalam kota via sto Kenten Ujung. Yang pertama gagal karena   perbedaan  type  kabel tidak support untuk Jasuka. Sedangkan yang   kedua  gagal  karena untuk membentuk link kontingensi via sto kenten   ujung  harus  membuat optical tie line antar gedung dan ruangan yang   berpotensi  menambah  redaman  kabel  sehingga  saat  diintegrasikan   termonitor  span loss akibat total redaman yang terlalu tinggi melebihi  yang  diharapkan sistem. Disamping itu, perbaikan OSP yg terganggu terus diupayakan. Mengapa lama recovery-nya….ternyata perbaikan   OSP-nya juga sangat “kompleks”.

Dari kejadian kemarin yang memang tidak pernah kami duga sebelumnya,   dimana  kami berasumsi bahwa rute kabel FO dalam duct kabel aman, ternyata  salah (FO darat yang putus lalu pada rute duct dalam kota   Palembang),  ke  depan akan diupayakan pembuatan kontingensi rute FO   untuk antisipasi seperti kejadian yg lalu.Musti  sewa  kapal dari Singapore, terus perbaikan kan ada antriannya. Seperti  kasus  kemarin  menunggu perbaikan skkl Indosat dulu, baru gilirannya Telkom.

Telkom  sudah masuk dalam konsorsiumSEAIOCMA     (The  South  East Asia and Indian Ocean Cable Maintenance Agreement)   dengan  iuran  pertahun  yang  jumlahnya  cukup  besar.  Dalam konsorsium  tersebut perusahaan yang menangani perbaikan kabel     laut  adalah  ACPL  (Asean Cableship Pte.Ltd.) yang bermarkas di Singapura.  Terkait  kejadian  putusnya kabel SKKL Jasuka ruas     TJN-TPS  tanggal  20-02-2008,  Telkom cq Divisi Infratel langsung     kontak  ke ACPL  untuk  proses  perbaikan  dan  mendapat respon:  perbaikan  akan dilaksanakan pada range waktu tgl 25-02 s.d 07-03 2008. Saat itu Cableship Asean Restorer sudah standby di Singapura.

Mengapa lama…? Proses perbaikan dimulai dengan loading kabel  di cableship, permintaan entry permit kepada pemerintah Indonesia     (ini  yang paling lama-/+5 hari ssi pengalaman), pelayaran dari port base  ke lokasi gangguan(-/+26jam), clearence entry permit     syahbandar   di   lokasi   kewenangan area lautnya(-/+6   jam), pencarian  kabel  laut  yang  putus,  pengetesan optical &     elecrical  sebelum  proses penyambungan, penyambungan kabel laut,     pengetesan  optical  &  electrical  lagi setelah penyambungan dan     clearence  exit permit lagi. Intinya … Telkom sudah tahu apa yang harus dilakukan dan lamanya proses tergantung juga kepada pihak eksternal.

Maret 3, 2008 Ditulis oleh henrisetiawan | Warung Kopi | | No Comments Yet

10 FENOMENA BRAND

I. PENDAHULUANMembangun sebuah Brand bukanlah pekerjaan yang mudah, terlebih lagi menumbuhkan brand local ditengah persaingan Global Brand atau melahirkan Local Brand untuk bersaing di International Market. Upaya yang dilakukan untuk melahirkan dan membesarkan brand memerlukan biaya dan tenaga yang tidak sedikit, bahkan seringkali memerlukan kesabaran karena waktu yang cukup panjang untuk menciptakan Brand yang memiliki value yang tinggi. Pada sisi lain, faktor ancaman kegagalan Brand juga menjadi kendala berikutnya, termasuk pertimbangan probability factor keberhasilan yang sulit untuk diprediksikan secara pasti. Melihat beratnya perjalanan lahirnya sebuah brand tangguh, nampaknya perlu menelaah lebih dalam beberapa kasus yang dapat mengancam eksistensi dan daya saing brand-brand tersebut.II. BRAND EQUITY CONCEPTBrand yang dipersepsikan dalam pembahasan ini merupakan Brand dalam konteks Brand Equity, brand yang bukan sekedar identity tetapi Brand yang memberikan added-value untuk sebuah produk. Dengan demikian Brand Equity dalam konteks ini dapatlah didefinisikan sebagai sekumpulan assets (dan liabilities) yang berkaitan dengan sebuah nama atau symbol yang memberi nilai tambah bagi produk (termasuk jasa) untuk perusahaan atau customer perusahaan penyedia produk atau jasa tersebut.Pada dasarnya Brand Equity terbentuk dari sedikitnya 5 komponen, yaitu: Brand Awareness, Brand Loyalty, Perceived Quality, Brand Association, dan Other Proprietary Brand Asset. Brand Awareness dan Brand Loyalty akan mendorong dan berkontribusi terhadap peningkatan kinerja sales, sedangkan Perceived Quality, Brand Association serta Other Proprietary Brand Assets memberikan added-value pada sebuah produk. Brand Loyalty lebih ditekankan pada users, sedangkan Brand Awareness, Perceived Quality dan Brand Associations terjadi pada proses keputusan membeli dan Other Propiretary Brand Assets lebih untuk kepentingan penciptaan perlindungan brand dan eksklusifitas dalam kaitannya dengan competitiveness. Komponen-komponen Brand Equity ini secara bersama-sama akan men-generate value.III. “10 FENOMENA”Global Brand versus Local BrandMeskipun diakui bahwa Global Brand memiliki daya tembus pasar yang tinggi, namun tidak menjamin, bahwa brand tersebut mampu memiliki performance competitiveness di semua area pasar. Local Brand seringkali menjadi dominator pasar lokal. Sebagai contoh, bagaimana Coca-cola yang menjadi The World most Valuable Brand, mendapat tantangan yang sangat keras dari Original Local Brand seperti teh Sosro. Berbagai contoh local brand unggulan dapat dicontohkan antara lain seperti di Cina: TCL, Haier, Tsingtao, di Meksiko : Bimbo, Telmex, Banamex, Cemex, di Australia: Telstra, Billabong, atau Singapura: DBS, OCBC, UOB, Tiger Balm, Sing Tel atau Singapore Airline. Brand-brand lokal tersebut memiliki keungggulan tinggi, bahkan telah berekspansi memasuki pasar global. Sebaliknya Coca-cola, global brand, mulai memikirkan pula untuk “think locally”, tahun 2000, CEO Coca-cola, Douglas Daft, mencanangkan “think local, act local” Marketing Strategy dan kini memiliki 100 local beverages di seluruh dunia, dan di Indonesia juga meluncurkan FreshTea dan mengakuisisi salah satu brand air mineral lokal.Pentingnya Investasi Brand melalui Brand Equity dalam rangka menumbuh kembangkan value dilakukan oleh banyak perusahaan karena berhubungan erat dengan upaya peningkatan earning dan cash flow perusahaan, bahkan bagi beberapa perusahaan besar brand menjadi salah satu ukuran penting untuk penentuan nilai saham (stock price), P/E Ratio dan Market Valuation.Nama brand unggulan telah menjadi jaminan bagi pasar investasi dan mampu memberikan kontribusi yang sangat dominan dalam menentukan Market Valuation yang tinggi. Meskipun Brand merupakan intangible asset, namun nilai pasarnya sangat luar biasa (lihat table).Sebagai contoh, Coca-cola Brand, yang pada akhir-akhir ini selalu menduduki ranking tertinggi Brand Value termahal di dunia, kuatnya Coca-cola Brand di mata investor seolah-olah menjadi dominasi untuk penentuan market value/stock price Coca-cola dan performance perusahaan bukan lagi menjadi isu yang dominan. Kepentingan investor ini semacam ini hanya merupakan kepentingan jangka pendek, secara jangka panjang kondisi ini tidak menguntungkan perusahaan.Bias Against InnovationKirin Beer cukup terkenal di Jepang dengan market-share 60% dalam empat dekade, tetapi dengan hadirnya pendatang Asahi Dry yang diterima konsumen sebagai innovator, maka market share-nya turun dibawah 50%. Kirin lebih suka mempertahankan status quo dan beranggapan bahwa dalam beer category tidak ada alasan yang kuat untuk diubah.Brand SwitchingKasus menarik Brand switching dalam kondisi krisis moneter yang parah seperti yang terjadi tahun 1997 di Indonesia mungkin menjadi kasus yang cukup langka. Beberapa brand leader yang pada umumnya mendominasi market share, tidak cukup mampu mempertahankan brand loyalty-nya. Brand leader seperti Rinso, yang tidak diragukan lagi Brand Equity-nya di Indonesia, nampaknya tidak mampu menahan lahirnya brand baru seperti Daia pada waktu itu. Kekuatan brand menjadi sangat lemah dan terjadi negative-leverage, keputusan membeli konsumen bergeser dari pertimbangan brand menjadi menjadi pertimbangan functional.Sales ProblemsStar Buck yang banyak dibahas sebagai case study menarik di bidang marketing akhir-akhir ini, bahkan menjadi salah satu contoh classic dalam pembahasan experiential marketing, harus menghadapi masalah sales dibeberapa negara. McDonald harus bersusah payah terus-menerus berinovasi dengan resep-resep barunya serta menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk marketing campaign untuk mempertahankan sales-nya. SLI-008 dalam ceruk pasarnya yang kecil dibandingkan SLI-001, salesnya sangat tergantung pada ads, padahal brand ini cukup familiar bagi customer pengguna jasa saluran internasional.PiracyDunia bisnis sekarang ini sedang menghadapi perang terhadap Piracy Product, bahkan Amerika sendiri sampai menerbitkan black-list negara-negara pembajak yang tidak disukai Amerika, termasuk di dalamnya pemalsuan Brand. Berdasarkan survey Business Software Alliance (BSA) kerugian terbesar pembajakan software tahun 2002 sebesar 43% dikontribusikan oleh Asia Pasifik, dan Cina menjadi salah satu Negara dengan tingkat piracy tinggi. Gambaran piracy tersebut umum terjadi dengan berbagai produk dan brand, sekaligus menjadi cerminan tingginya ancaman serius bagi brand yang semakin tidak memiliki privacy dalam mempertahankan competitiveness-nya.New BrandsMie Instan, nampaknya menjadi contoh baik di Indonesia. Indomie dan keluarga produk mie Indofood yang menguasai pangsa pasar terbesar mie instant, selalu berupaya untuk meningkatkan diversifikasi aneka macam jenis/varian mie instant. Dominasi brand Indomie, yang bahkan sudah menjadi generic brand, tetap saja terganggu dengan brand-brand baru, bahkan secara guerrilla brand-brand baru mampu menjadi pemimpin pasar di daerah, seperti contohnya penguasaan pasar mie instant di daerah Medan oleh pendatang baru Alhami. Bahkan secara serius dengan model persaingan frontal, Mie Sedap, kelompok Wing sebagai pendatang terbaru juga mampu mengambil share dari the leader.Me Too product,Nabisco telah menghabiskan dana $ 34 juta untuk Oreo-related ads di tahun 2001 dan berhasil dengan pertumbuhan sales 7,5% di tahun 2002, empat kali rata-rata pertumbuhan sales dalam kategori industri yang sama. Namun, keberhasilan ini tidak begitu mudah untuk dipertahankan. Respon follower atas keberhasilan ini nampak sekali dengan munculnya berbagai macam brand (me too product) yang mengikuti dan mendompleng popularitas Oreo.Fragmentation MarketAqua, sebagai pemimpin pasar, harus menghadapi kenyataan, bahwa medan persaingan tidaklah sebatas brand papan atas, upaya yang dilakukan untuk bertahan sebagai premium brand masih memerlukan endorsement dari Danone, di sisi lain, peranan brand kelas bawah menyebabkan ancaman bagi Aqua cukup besar, termasuk Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) kelas paling bawah, serta substitusi Air Mineral Isi Ulang. Persaingan dengan segmentation model yang lebar ini terjadi karena fragmentasi pasar akibat industry attractiveness yang tinggi pada industri AMDK. Persaingan seperti ini akan memerlukan banyak biaya dan tenaga untuk dapat mempertahankan posisi brand, terlebih lagi sebagian konsumen yang merupakan brand seekers atau bahkan tidak perduli terhadap brand.ComodityDualisme pandangan mengenai brand dan anti brand perlu mendapat perhatian pula. Kaum Marketing seringkali mengesampingkan ancaman ini bagi brand. Namun secara signifikan sebagian besar produk, market share-nya dikuasai oleh non-brand atau sering disebut Comodity, meskipun added-value-nya tidak tinggi, atau bahkan pada commodity tertentu, added-value-nya mendekat cost. Sebagai ilustrasi, industri minyak goreng di Indonesia, sebagian besar dikuasai oleh pasar minyak goreng curah, sedangkan branded product, seperti Bimoli, Filma, dan brand lainnya tidak lebih dari 30% total pasar minyak goreng.

Januari 8, 2008 Ditulis oleh henrisetiawan | Tidak terkategori | | & Komentar

Agar Produk atau Jasa Anda Diingat Sepanjang Hayat

Dahulu, ketika kita memasarkan suatu produk atau jasa, maka kita cukup
 mengandalkan feature (karakteristik, sifat atau ciri-ciri) dan benefit
 (manfaat atau kegunaan) agar produk atau jasa kita bisa laku dan tetap
 dibeli oleh pelanggan kita. Tapi, sekarang  feature dan benefit saja
 terkadang kurang cukup agar kita tetap exist di pasar, karena ternyata
 para pesaing kita bisa meniru bahkan menyamai produk yang kita jual ke
 pasar. 

Lalu muncullah hal-hal yang intangible seperti pelayanan atau service
 agar feature dan benefit produk bisa hadir 'lebih bermakna' di benak
 customers. Itupun saat ini seringkali masih belum cukup juga, mengingat
 semakin hari tingkat kompetisi semakin severe dan kompleks. Lalu apa lagi
 yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan market
 share dan profitabilitas ?

Jawabannya adalah menyangkut customer's memory. Apakah produk atau jasa
 kita memorable (menciptakan kenangan yang indah) bagi customers kita ?
 Apakah produk atau jasa kita bisa lengket di heart (hati) & mind
 (pikiran) para customers. Dari situlah maka muncul istilah Experiential
 Marketing, yaitu suatu pendekatan pemasaran yang mengupayakan agar para
 customers memiliki suatu pengalaman yang tak terlupakan ketika akan,
 sedang atau telah membeli produk atau jasa kita. Caranya adalah dengan
 menyentuh sisi emosional customers lebih dalam lagi, bukan lagi sekedar sisi
 rasionalnya.

Bernd H. Schmitt, pakar pemasaran dan guru besar dari Columbia Business
 School, USA, dalam bukunya Experiential Marketing : How to Get
 Customers to Sense, Feel, Think, Act & Relate to Your Company and Brands,
 mengupas dengan sangat menarik apa dan bagaimana Experiential Marketing
 (EM) itu. 

Ia mengemukakan adanya 5 unsur penting dalam EM, yaitu sense, feel,
 think, act dan relate. Unsur-unsur ini perlu kita ketahui lebih detail
 agar kita bisa memilih dan memastikan unsur yang mana saja yang bisa kita
 terapkan ke produk atau jasa kita. Mungkin tidak semua unsur dapat
 diaplikasikan secara bersama-sama. Mungkin hanya satu atau dua unsur saja
 yang bisa kita pakai. Semuanya tergantung kepada jenis barang atau jasa
 Anda, struktur persaingan, segmen pasar yang dibidik dan sebagainya.

Unsur yang pertama, sense adalah bagaimana agar produk atau jasa kita
 bisa dirasakan oleh panca indra kita (mata, telinga, hidung, lidah dan
 kulit). Ini adalah unsur yang paling sederhana yang bisa diterapkan.
 Semakin banyak indra yang bisa merasakannya, maka semakin besar
 kemungkinan produk kita menjadi memorable. Mengapa ? Karena setiap orang memiliki
 preferensi yang berbeda dalam menyampaikan informasi ke otak lewat
 panca indra. Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming), dikenal ada orang
 yang bertipe visual (lebih peduli pada apa yang dilihat), auditory
 (lebih peduli pada apa yang didengar) dan kinestetik (lebih peduli pada apa
 yang mereka sentuh atau rasakan). Jadi, dengan melibatkan semakin
 banyak indra, maka semakin banyak orang yang bisa kita jangkau (untuk masuk
 ke memori mereka).

Apakah Anda pernah antri untuk membeli roti di Bread Talk atau donat
 J-Co ?  Lalu mengapa orang-orang rela ngantri hanya demi untuk sepotong
 roti ? Penyebabnya adalah karena mereka sukses menyampaikan pesan
 produknya ke otak Anda melalui beberapa indra yang terlibat. Pertama, dari
 jarak yang agak jauh Anda sudah membaui (dengan hidung) aroma roti yang
 'harum' dan mengundang Anda untuk mendekat. Semakin dekat semakin
 merangsang baunya. Setelah dekat, Anda bisa melihat dengan mata kepala Anda
 sendiri proses pembuatan roti (melalui kaca transparan) untuk menggugah
 Anda bahwa roti mereka fresh from the oven. Kemudian Anda masuk ke
 gerai mereka dan sebelum membeli-pun lidah Anda akan dibuat ngiler dengan
 berbagai bentuk roti yang di-display dengan sangat menarik. Satu lagi,
 bagi Anda yang kinestetik, barangkali tindakan mengantri, mengambil
 nampan, memilih roti, mengantri lagi dan membayar di kasir menciptakan
 sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Ini adalah sebuah proses emosional,
 karena secara logika koq mau-maunya Anda dikerjain oleh si Break Talk.

Unsur kedua, feel adalah bagaimana menciptakan perasaan enak (feel
 good) bagi para customers, yaitu dengan melibatkan mood dan emosi secara
 lebih intens lagi. Beberapa acara reality show di televisi seperti AFI,
 Indonesian Idol atau MamaMia adalah beberapa contoh produk yang sukses
 memanfaatkan emosi para penonton agar mereka terus mengingat dan
 menontonnya kembali. Sebagian dari Anda mungkin juga pernah mengirim SMS
 dukungan ke salah satu kontestan, padahal barangkali Anda tidak mengenal
 kontestan itu, hanya karena emosi Anda bangkit dan menggerakkan Anda untuk
 melakukan sesuatu.

Unsur ketiga, think adalah upaya yang perlu diciptakan agar customer
 mau ber-positive thinking kepada produk atau jasa Anda setelah customer
 Anda merasa baik (feel good). Ini dapat menciptakan customer
 satisfaction yang lebih berjangka panjang.  Dengan demikian diharapkan akan timbul
 word of mouth (promosi dari mulut ke mulut) yang baik bagi produk
 Anda. Kampanye iklan Apple Computer 'think different' adalah contoh iklan
 untuk menggugah orang agar mau 'positive thinking' kepada produk Apple.

Unsur keempat, act adalah upaya yang diarahkan bagi terciptanya
 pengalaman melalui perilaku tertentu dari customers, baik berupa tindakan
 individual maupun gaya hidup seseorang. Tindakan yang diambil seseorang
 dipengaruhi oleh faktor luar dan opini di dalam dirinya. Tugas Anda
 sebagai experiential marketer adalah menggabungkan pengaruh eksternal dengan
 feel dan think agar customer melakukan tindakan dan punya pengalaman
 tersendiri. Iklan Oreo di televisi 'diputar, dijilat dan dicelupkan'
 barangkali merupakan upaya agar calon customer selalu terkenang dengan Oreo
 dengan tindakan 'diputar, dijilat dan dicelupkan' tadi. Contoh lain,
 kalau Anda pernah ke Jogja, cobalah mampir ke Bakmi Mbah Mo (lho koq
 malah promosi he.he.). Dengan datang kesana, maka Anda akan memiliki
 pengalaman yang tak terlupakan karena tindakan Anda yang telah berjuang
 masuk ke pelosok terpencil di daerah Bantul sana, mungkin lebih dari 10 KM
 dari Jogja, masuk ke jalan tak beraspal lagi. Warungnya juga relatif
 sederhana, memasak mie pakai arang tapi koq tetap exist setelah puluhan
 tahun.

 Unsur yang terakhir adalah relate, yaitu bagaimana sensasi, feeling,
 thinking & action seseorang tadi, jauh diperbesar lagi ke arah konteks
 sosial dan budaya. Jadi relate menghubungkan customers secara individual
 dengan masyarakat atau budaya tertentu. Ini merupakan daya tarik yang
 paling dalam bagi customers Anda. McDonald dan juga Starbucks adalah dua
 perusahaan yang telah berhasil menerapkan unsur relate. Contoh lain,
 banyak orang memakai motor Harley Davidson, bukan karena kualitas
 motornya yang bagus melainkan karena HD sudah menggambarkan gaya hidup
 tententu bagi pemakainya apalagi dengan adanya komunitas HDCI yang cukup
 fanatik dengan segala atribut HD-nya, termasuk juga kegiatan-kegiatan
 sosial yang dilakukannya.

Itulah sekilas tentang 5 unsur EM ala Bernd H. Schmitt. Anda perlu
 mulai memikirkan jenis yang mana dari kelima jenis pengalaman (experiences)
 diatas yang bisa diaplikasikan untuk produk atau jasa Anda. Harapannya
 adalah agar customers Anda selalu ingat, mau kembali lagi dan tidak
 pindah ke lain hati. 

Jadi, sudah saatnya untuk menawarkan suatu pengalaman yang tak
 terlupakan bagi customers Anda, sesuatu yang  memorable, sesuatu yang bakal
 diingat pelanggan Anda sepanjang hayatnya. Tapi ingat ! Jangan sekali-kali
 melupakan feature, benefit dan intangible. Karena ketiganya juga
 merupakan prasyarat agar produk atau jasa Anda benar-benar bisa disebut
 berkualitas. Wish You Luck

November 22, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Tidak terkategori | | No Comments Yet

4 hal agar TELKOM tetap di hati Masyarakat

Dalam pemerataan kepentingan sosial di bangsa ini, bukan hanya pemerintah saja tetapi didukung oleh perusahaan-perusahaan lain. Salah satunya adalah TELKOM dimana terdapat 4 hal yang perlu diketahui mengapa TELKOM harus ada di Masyarakat. Pertama, TELKOM merupakan perusahaan BUMN yang masih Indonesia. Luasnya NKRI membuat TELKOM menyadari bahwa masyarakat perlu mendapatkan hak fasilitas yang sama. Pertanyaannya “apakah manajemen TELKOM ini sangat committed dengan apa yang pernah dicanangkan”. Kedua, Adanya pemerataan fasilitas Speedy, maka secara teknologi informasi semua informasi mengenai segala aspek dapat didapat dengan mudah dan cepat. Dan apabila ini dapat terjadi maka kesenjangan antara Pusat dan daerah yang selama ini telah menjadi diskusi dapat diminimasi.

Ke-Tiga, teknologi internet merupakan 2 mata panah yang berbeda ada sisi negatif dan positifnya terlebih penggunanya sebagaian besar para anak muda. Oleh sebab itu masih diperlukannya bimbingan kepada pengguna internet agar fasilitas ini secara maksimal benar-benar dapat dipetik manfaatnya. Karena secangih apapun tehnologi pasti punya efek samping yang positif maupun negatipe. Tetapi efek positip yang banyak memberi manfaat yang besar bagi kemajuan bangsa, mari kita pikirkan bersama. Ke-Empat, TELKOM bukan hanya memikirkan prospek bisnis saja, tetapi membantu masyarkat yang tertimpa musibah adalah salah satu bentuk program TELKOM melalui CDC baik dari Korporate maupun Divre.

Dalam kancah persaingan bisnis, TELKOM tetap mementingkan hal penting bagi kepentingan masyarakat, harapan kami dengan kehadiran produk TELKOM ini tentu-nya tidak saja mendapat sambautan baik, tetapi dengan nasionalisme yang ditunjukan dan merupakan kebanggaan kita untuk selalu mengunakan produk yang dimiliki oleh perusahaan bangsa kita sendiri.

November 20, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Tidak terkategori | | No Comments Yet

Becoming Blessed CEO

Sukses perusahaan tak hanya diukur berdasar kinerja intelektual dan emosional, tetapi juga spiritual. Itulah ciri perusahaan yang diberkati. Bagaimana cara menjadi perusahaan seperti itu? Bagaimana menjadi CEO yang penuh berkah?

Dalam bukunya Built to Bless (2007), Paulus Bambang W.S. melihat William Soeryadjaya adalah salah satu contoh pemimpin yang berhasil menerapkan konsep built to bless di perusahaannya. Paulus, kini wakil presdir PT United Tractors Tbk., melihat, dalam berbisnis, Om Willem tidak memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi selalu berorientasi pada penciptaan lapangan kerja. Om Willem juga menekankan pentingnya bekerja dengan jujur dan rendah hati, memperhatikan kesejahteraan karyawan, dan selalu berterima kasih kepada Tuhan. Paulus melihat nilai-nilai itu kini dipegang oleh seluruh lapisan manajemen Astra.

 

Paulus juga melihat Om Willem tak asal bicara. Apa yang ia ajarkan, itu dia lakukan. Bukti paling tegas adalah tatkala si Om harus melepas seluruh sahamnya di Astra agar bisa melunasi utang keluarganya. Om Willem berprinsip utang harus dibayar?walau untuk itu dia harus turun derajat. ?Prinsip ini akhirnya menjadi brand Astra,? tulis Paulus. Astra kemudian dikenal sebagai perusahaan yang tak akan lari dari kewajibannya, tidak akan merusak lingkungan, dan tak akan menghancurkan UKM demi memperbesar diri sendiri.   

Built to Bless

Menurut Paulus, konsep built to bless menarik untuk dipelajari dan diterapkan para pemimpin perusahaan. ?Perusahaan yang built to bless sudah menyentuh sisi spiritual yang bersumber kepada Tuhan dalam perilaku bisnisnya. Banyak fenomena menunjukkan spiritualitas, sebagai kata manajemen sekuler untuk kata Tuhan, dapat mendorong kesuksesan perusahaan,? ujarnya. Banyak pemimpin perusahaan yang dulu dianggap puritan karena mencampurbaurkan prinsip agama dan bisnis, kini memperoleh sorotan karena berhasil memimpin perusahaannya mencapai kinerja yang demikian tinggi dengan memperhatikan aspek spiritual. Di antara mereka adalah C. William Pollard (mantan chairman The ServiceMaster Company), S. Truett Cathy (pendiri Chick-fil-A Company), dan W.C. Meloon (pendiri Correct Craft Inc.)

Merujuk konsep built to bless , kesuksesan perusahaan tak hanya diukur dari capaian prestasi keuangan dan pencapaian perusahaan mengembangkan budaya yang sangat kuat, tetapi juga bagaimana menjadi perusahaan yang penuh berkat ( a built to bless company ). Kesuksesan menyeluruh sebuah perusahaan bisa dilihat dari tiga indikator, yaitu:

1.     Kinerja intelektual berdasar angka ( good to great company )

2.     Kinerja emosional berdasar nilai ( built to last company ), dan

3.     Kinerja spiritual  berdasar keyakinan atau belief ( built to bless company )

Paulus mengungkapkan, hingga kini, masih banyak orang yang berpandangan bahwa ke-Tuhan-an dan aktivitas bisnis adalah dua hal yang terpisah. Tuhan adalah masalah surgawi, bisnis masalah duniawi. Tuhan sumber kesucian, bisnis sumber kekotoran, penuh tipu daya dan tipu muslihat. Tuhan Maha Pasti, sedangkan bisnis penuh ketidakpastian. Tuhan menekankan persaudaraan dan persahabatan, sementara bisnis memupuk rasa persaingan. Tuhan ingin kejujuran dan keadilan, bisnis justru banyak menumbuhkan sikap manipulasi dan ketidakadilan. Jadi, sifat bisnis dianggap bertentangan dengan sifat Tuhan. ?Mereka menganggap kalau bisnis dikelola dengan prinsip ke-Tuhan-an, pasti mati,? papar Paulus.

Namun, ungkap Paulus, kini menguat pandangan yang meyakini bahwa bisnis dan ke-Tuhan-an harus sejalan seirama. Manusia yang ber-Tuhan tak mungkin menjalankan bisnis yang menentang prinsip-prinsip ke-Tuhan-an. Maka, bermunculan diskusi etika berbisnis dalam kerangka spiritual, seperti menghindari dosa sosial, korupsi, suap, dan pembukuan ganda. Pengertian baik-buruk dan benar-salah dalam penerapan prinsip Good Corporate Governance bergerak lebih jauh lagi ke prinsip baru: God Corporate Governance .  perusahaan tak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham ( shareholders ) dan pemangku kepentingan ( stakeholders ), tetapi juga kepada Tuhan ( soulholder ).

Penerapan Built to Bless
Lantas, bisakah konsep built to bless diterapkan? Dapatkah mereka memadukan kepentingan usaha dengan kepentingan spiritual? Mampukah mereka mencari keuntungan sekaligus beribadah? Bagaimana caranya mencari keuntungan yang diberkati Tuhan? Lalu, pada gilirannya, mencuat pertanyaan, bagaimana menjadi seorang CEO yang penuh berkah?

Perusahaan tidak boleh kompromi jika ada karyawannya yang menyimpang dari nilai-nilai perusahaan?walau dia cerdas, berprestasi, dan dibutuhkan perusahaan. Langkah kompromi justru memberikan sinyal yang keliru bagi karyawan lain. Dalam jangka pendek memang merugikan, tetapi jangka panjangnya lebih besar manfaatnya.  

Perusahaan setiap saat harus terus mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan kepada seluruh karyawan mengingat godaan-godaan untuk menyimpang muncul setiap saat. Paling cepat, butuh waktu 4?5 tahun untuk mengubah perusahaan yang tadinya tidak terkontrol menjadi tertib.  

Untuk menjadi pemimpin perusahaan yang diberkati, mulailah dengan hal-hal sederhana. Misalnya, sebagai pemimpin, ia harus menunjukkan pula perhatian besar perusahaan kepada karyawan, seperti gaji sesuai dengan kelasnya, tak boleh telat, dan memberikan penghargaan atau pengakuan kepada karyawan yang berprestasi.  

Filosofi ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Prinsip ?ILMU PADI ada kepanjangannya, yaitu Integritas, Loyalitas, Mandiri, Unggul, Profesional, Amanah, Disiplin, Ikhlas.  

Apabila integritas menjamin karyawan memiliki komitmen terhadap tujuan perusahaan dan berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan, maka loyalitas menuntut karyawan bekerja penuh bagi perusahaan dan tak diperbolehkan memiliki usaha sampingan. Mandiri bermakna karyawan setiap saat siap ditempatkan di mana saja, tanpa tergantung pada orang lain, dan unggul berarti setiap saat karyawan harus meningkatkan kapasitas.  

Kemudian, profesional adalah karyawan bisa membedakan kepentingan perusahaan dengan kepentingan pribadi, amanah berarti karyawan patut menjaga kepercayaan, tidak boleh menyalahgunakan jabatan. ?Amanah itu pertanggungjawabannya di dunia dan akhirat. Disiplin , tambahnya, juga penting diterapkan karena ini bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan. ?Pekerjaan itu karunia Tuhan dan patut disyukuri karena tak semua orang mempunyai kesempatan kerja yang sama. Terakhir, ikhlas bermakna karyawan janganlah berpikir bahwa pekerjaan yang dilakukannya tidak dinilai Tuhan. ?Dengan bekerja lebih keras, sebenarnya ia juga sedang menabung berkat yang akan diberikan Tuhan.  

God Corporate Governance  

Menurut Paulus, untuk bisa menjadi pemimpin perusahaan yang diberkati, kepribadian seorang  bisa diubah menjadi kepribadian yang diberkati. Apa saja ciri-cirinya? Papar Paulus, ada tiga elemen pokok.  

1.     Pertama, memiliki landasan spiritual yang kuat dalam meletakkan norma, etika, nilai, dan budaya ( beyond the standard NORM ).

2.     Kedua, mengakui bahwa Tuhan adalah  utama.

Ketiga, menerapkan God (bukan Good ) Corporate Governance secara pribadi dalam pekerjaannya dan memberikan pengaruh yang benar kepada lingkungan sekitar dalam semua aspek kehidupan ( quality of life ).

Selain itu, tambah Paulus, seorang pemimpin yang penuh berkah setidaknya harus memiliki 10 pegangan keyakinan ( belief ) sebagai pegangan hidup pribadi, yaitu beriman, setia, jujur, rendah hati, tulus, cerdik, berwawasan ke depan, mampu melakukan langkah terobosan, memiliki semangat juang, dan berupaya menghasilkan kinerja akhir unggul. ?Sepuluh sifat ini tidak berdiri sendiri, tetapi terjalin kuat dan harus dibalut dalam kerangka besar yang mengayomi seluruh keyakinan hidup, yaitu kasih yang merupakan sumber kehidupan,? urai Paulus.  

Dalam bukunya yang berjudul The Celestial Management (2004), A. Riawan Amin, presdir PT Bank Muamalat Indonesia, juga mencoba memberikan panduan bagi para CEO dengan memberi sentuhan spiritual dalam pengelolaan usaha. Nilai-nilai spiritual yang relevan dengan kegiatan bisnis itu ia kemas dalam 12 atribut utama yang dirangkum dalam tiga kategori, yaitu ZIKR (Zero Base, Iman, Konsisten, Result Oriented),  PIKR (Power Sharing, Information Sharing, Knowledge Sharing, Rewards Sharing), dan MIKR (Militan, Intelek, Kompetitif dan Regeneratif).

November 20, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Management | | No Comments Yet

Kekuatan Latheral Marketing

Dua minggu terakhir ini, saya keliling di Jakarta Pusat dan Batam, melihat kondisi pemasaran PSTN yang senantiasa turun. Satu hal yang mirip antara Jakarta Pusat dan Batam adalah Sales Force yang begitu semangat, bayangkan saja dengan gaji minimal, mereka bisa membawa revenue hampir 60% dari total sales. Kalau memang ditanggapi dengan baik, maka sales PSTN tidak akan turun sedrastis saat ini, namun karena kondisinya memang benar-benar parah, maka PSTN dianggap tidak lagi prospektif.

Kenapa saya mengatakan parah, saat sales melonjak akibat tingginya demand, sales yang begitu mudah diperoleh tetapi tidak ditindaklanjuti dengan after sales yang benar, artinya setiap sales tidak diikuti dengan pemberian barang secara tepat waktu, ada saja kendala yang dihadapi mulai dari keterbatasan alat produksi sampai dengan alasan keterbatasan SDM. Suatu alasan klasik yang sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi.

Latheral marketing merupakan sales yang telah dilakukan Telkom selama ini, namun sales yang terjadi tidak bisa diwujudkan menjadi revenue real. Dijaman yang serba cepat seperti saat ini, masih ada perusahaan yang tidak tahu harus berbuat apa karena produk-nya turun. Tidak ada salahnya untuk leading supply, karena customer butuh cepat dan yang paling penting kualitas layanan sendiri menjadi hal yang paling krusial.

First Media saja yang sekedar ganti baju dari Kabelvision, belum berubah secara pelayanan, namun dari segi performansi lebih  baik sekalipun yang dilakukan hanya sekedar mengganti CMTS, namun dampak ke masyarakat sangat besar, customer puas. Sedangkan dilihat dari segi kualitas, dengan dibukanya port-port akses, customer begitu haus untuk download memakan bandwidth yang menjadi media marketing First Media, namun ini hanya temporary, setelah customer terbius, apapun bisa dijadikan alasan.

Pelajaran demi pelajaran semakin banyak dan menarik untuk dipelajari, namun masalahnya adalah bagaimana bisa diterapkan diperusahaan Telkom ini. The question is not about how, but whom we need to influence.

November 20, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Warung Kopi | | No Comments Yet

Frame Work for Business Telkom

Frame Work for Business Telkom terdiri dari

(1) Malcom Baldrige for Performance Excellence,

(2)   Human Capital Management,

(3) Strategic Human Capital Management Pillars Leveraging Human Capital Management to Performance Excellent, dan

(4) Lessons Learned Sharing Telkom Implementation.

Human Capital adalah manusia yang ada dalam perusahaan dengan segala  keunikannya (skill, knowledge, attitude, aptitude, expertise, experience, ellgibilty, ability, suitability, authority, training, education, creativity, dan nilai tumbuh lainnya), yang membentuk sebagai kekayaan korporasi, biasa disebut talent.

Ke depan yang dibutuhkan adalah talent skill serta team work yang berhubungan dengan vendor dan regulator. Talent orang-orang yang memberikan impact ke bisnis. Inilah perubahan Human Resources ke Human Capital. “Di Telkom yang dikelola dalam Human Capital Management-nya adalah brain orang itu, bukan individunya, agar dia bisa memberi result ke bisnis. Brain pegawai dimasukkan ke server, apabila dia ingin keluar dari Telkom, silahkan.. karena brain orang itu sudah ada di Telkom. Ini yang dinamakan Learning Organization, artinya walaupun dia pergi organisasinya masih berkembang”.

Untuk mengukur personal itu Telkom menggunakan Competency Base Human Resources Management (CBHRM). Telkom menilainya dari K1 hingga K5. K1 yang terbaik dan K5 yang terburuk. Semua pegawai mendapat K3  berarti human resources manajemennya sudah bagus, tinggal impactnya ke bisnis tidak?  Sekarang bersaing bukan pada produknya lagi tetapi talent orangnya, dan melihat talent competitor, dan lebih luas lagi melihat negaranya.

Contoh, sekarang banyak perusahaan mengejar nilai Malcolm Baldrige diatas 500. Ia pun pernah bertanya pada Paul Steel, apakah ciri-ciri perusahaan yang sudah memperoleh  nilai  Malcolm Baldrige 600, seperti  Perusahaan Boeing? Dijawab Paul Steel, bukan nilai yang dicari, tetapi adakah dampak ke bisnis perusahaan itu. Contohnya bila masuk sebuah perusahaan yang besar di lobby tidak ada lagi pegawai yang duduk ngobrol walaupun sebentar, atau di dalam ruang kerja pegawai tidak ada pegawai ngobrol untuk menarik perhatian rekan kerja yang lain atau ketawa-tawa. Apakah hal ini masih ada?

Contohnya yang sederhana, Telkom masuk 650 perusahaan di dunia. Targetnya masuk 500 perusahaan di dunia. Bila masih memakai personal management apakah Telkom bisa mencapainya? Jadi untuk mengukur sukses atau tidaknya ada pada bisnis performancenya, dengan kredo kerja bagus, karir dan uang akan mengikutinya.

November 6, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Tidak terkategori | | 1 Komentar

Pelajaran Trip Malaysia : People are Unique

Minggu lalu saya diajak teman ke Malaysia, kita berangkat berlima dengan tujuan trip to Malaysia for playing around. Baru kali ini saya pergi tanpa membawa komputer notebook dan tujuan hanya untuk main. But, anyway ini adalah trip yang cukup menyenangkan. Berlima kita baru kenal beberapa waktu yang lalu saat ada training di Bandung dan kita merasa cocok satu dengan yang lain. Beberapa kali kita hanya sempat ketemu virtual karena memang saya ada di Bandung dan mereka kebanyakan ada di Jakarta.

Tanggal 17 Oktober 2007, sebagai waktu yang telah disepakati, kita bertemu di McDonald Terminal 2D Jakarta. Pagi itu karena merasa akan macet, saya berangkat pagi-pagi sekitar jam 5 untuk mengejar pesawat jam 11. Terlalu pesimis sebenarnya namun hal ini karena pengalaman sebelumnya bahwa arus balik biasanya sangat ramai, lebih baik agak maju berangkatnya. Namun ternyata prediksi saya salah, 2 jam waktu tempuh sudah masuk ke Cengkareng, quite surprise but it is true. Jam 7.15, saya sudah turun di Terminal 2D, celingukan tanpa tujuan karena prediksi yang salah tadi. Langsung saja saya menuju ke McDonald, sambil nunggu dan sarapan.

Setelah membeli double cheese burger packet, langsung aja menuju ketempat saya menaruh tas, ternyata tempat tadi sudah ada orang yang duduk dengan seenaknya saja, padahal ada tas saya disitu sebagai tanda ada yang nempatin. But, pagi itu saya merasa malas untuk debat, saya ambil tas dan pindah. Ada 2 pemikiran saya melihat orang tadi, orang itu masih muda perawakan sedang, macam orang Sumatera. Satu hal yang saya pikirkan adalah may be that person is a thief, karena dia langsung duduk ditempat yang sudah ada tas orang lain. Kedua adalah pemikiran orang tersebut memang dari kampung yang kurang ngerti tata krama. Jadi dengan seenaknya saja dia duduk ditempat orang. Anyway, that kind of person memang banyak di Indonesia, hanya mau enaknya saja tanpa mikirin orang lain. Yang penting enak…..kata salahsatu promosi iklan.

Sambil sarapan, saya call teman-teman, satu orang ternyata sudah datang duluan, quite surprise karena dia tidak menunggu ditempat yang sudah dijanjikan. Dia lebih memilih untuk menunggu di Dunkin Donut didalam, untuk sarapan Sandwitch. Lho kok gitu ya, pemikiran saya, mungkin karena memang dia ndak suka McDonald. Namun dari telpon, alasan dia adalah karena panas di luar. Ok, that make sense.

Teman lain belum datang, karena memang mereka berdomisilit di Jakarta sehingga masih terlalu pagi untuk datang. Anyway, saya menikmati kesendirian dengan double cheess tadi.

Setengah sembilan, teman saya masih belum mau datang ke McDonald, dia bilang mendingan nunggu di Dunkin Donut, ok deh….saya nunggu aja di McDonald karena memang kesepakatan demikian, kepikiran juga untuk pindah namun khawatir teman-teman lain bingung. Konsisten dengan perjanjian awal karena 3 orang lagi masih belum hadir. Tak lama, datang satu orang teman, dengan membawa tas besar, quite surprise karena saya ndak menyangka perlu membawa tas sebesar itu, sewaktu datang saya tanyain, wah mau borong nich bawa tas segitu besar. Dia bilang langsung ke saya, daripada harus beli tas lagi, mendingan bawa yang besar. Tipikal yang tidak bisa dipungkirin, pelancong Indonesia memang terkenal untuk royal dalam belanja, beli tas untuk barang-barang yang dibeli sudah menjadi suatu tradisi tersendiri.

Waktu terus berlalu, teman saya menanyakan siapa yang sudah datang, saya bilang satu sudah datang tapi nunggu didalam, panas katanya. Ok, kalau gitu kita tunggu saja disini. Tak lama 2 orang orang lagi datang, mereka langsung menuju McDonald karena memang tempat itu adalah tempat perjanjian pertemuan.

Disini saya belajar mengamati konsitensi, secara sadar maupun tidak suatu komitmen memang harus dipegang, bila tadi saya ikutan pindah kedalam memang secara lokasi lebih enak untuk saya karena lebih sejuk, namun akan mempersulit teman-teman yang lain karena perjanjian pertemuan diluar. Kondisi ini memperlihatkan bahwa konsistensi dari awal memang perlu dipegang.

Satu hal kenapa teman saya didalam ndak mau keluar ternyata dia bertemu dengan salah satu TKW yang mau ke Brunei, sehingga dia melupakan teman-teman lain yang menunggu di McDonald, dongkol juga sich kita yang nungguin dia, namun karena baru kenal, kita anggap it is just a joke.

Ternyata memang teman kita yang satu itu unique sekali, setelah kita cari kedalam, kita bertemu untuk bagi-bagi ticket pesawat, setelah itu dia ngilang lagi….kita pikir adalah ke toilet, namun tak lama dia sms, kenapa lama sekali diluar, sudah ditunggu nich didalam. Sialan juga, kita nungguin dia, eh..malahan tanpa basa-basi dia bilang ngapain nunggu diluar….kita ketawa juga, karena masih berpikir ini adalah joke.

Namun ternyata ini adalah tipikal teman satu itu, dia cenderung untuk berjalan sendiri, tidak perduli dengan team karena dia punya agenda sendiri. Akhirnya kita semua sadar, people are unique, tidak pernah disangka, sudah diajak namun tidak ada nurani untuk bergreatful atau sekedar terima kasih. Tidak bisa dipaksakan namun kelihatan aneh saja, kok ada orang yang gitu ya.

Bayangkan saja, sudah kita ajak baik-baik, dia bersikap macam boss, kemudian tidak perduli dengan teman seperjalanan, karena sibuk dengan SMS dan telpon-nya. Kemudian yang paling parah adalah sering ngilang, sehingga kita sebagai teman perjalanan sering kelabakan mencari-cari dia. Sampai akhirnya kita tidak perduli lagi dia mau kemana. Sponsor perjalanan sampai bilang, teman kamu tuch kayaknya kelainan deh, tidak punya sopan santun dan sangat egois.

Disini saya belajar hal baru, konsistensi sangat penting dan kebersamaan adalah salah satu media penting untuk bersosialisasi. Entah sekedar menemani, ngobrol dan basa-basi adalah tools untuk mencapai kebersamaan. Karena dengan kebersamaan kita bisa menjalankan apa yang disebut dengan persahabatan dan ini dapat menjalankan apa saja tanpa beban dan iri dengki. Keakraban ini yang dikenal dengan tali persahabatan membuat perjalanan kemarin merupakan pengalaman tidak terlupakan. Saling sharing, tanpa hitungan baik tenaga, waktu maupun uang adalah wujud persahabatan yang tidak bisa hilang begitu saja.

Pengalaman ini menunjukan people are unique, but uniquness adalah media untuk kebersamaan. Anyone have tough of what is the best of their choice

Oktober 23, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Warung Kopi | | No Comments Yet

Berpikir Positif

Kemarin adalah hari yang sangat menyebalkan, biasa hari Kamis kataku. Entah mengapa, setiap kali hari Kamis datang, maka ada beberapa hal yang tidak berkenan di hati muncul dalam kehidupanku. Pagi hari sudah ada masalah dengan kerjaan sehari-hari, yaitu tidak ada kerjaan sama sekali. Email kosong, tidak ada tugas dan yang paling parah adalah tidak tahu harus ngapain. Siang hari muncul masalah kedua, saat temanku menginformasikan bahwa project yang sudah dijalani selama 1 tahun lepas dari tangan. Ini yang semakin membuat kepala sakit. Tambah lagi sore hari ketika ketemu teman yang lain mengatakan bahwa prinsipal tidak lagi bisa mensupport, karena dianggapnya project yang akan dijalankan terlalu kecil dan tidak memberikan margin yang menguntungkan. Gila ndak sich, project 5 juta dollar masih dianggap tidak fisible…dimana sich project yang sebesar itu dengan margin 20% dianggap tidak profit ? Dan yang terakhir adalah malam hari, saat nyonya rumah marah karena pulang kemalaman, padahal sudah diinformasikan bahwa ada dinner meeting, tapi yang bersangkutan tidak mau tahu, perang mulutlah malam itu sampai anak-anak terbangun. Lengkap sudah penderitaan dan permasalahan yang muncul hari itu.

Back to the title, berpikir positif, ada yang memberikan nasihat sederhana, apapun yang terjadi pasti ada hikmatnya. Suatu pemikiran yang sangat sederhana, dimana pemikiran ini muncul dari seseorang yang tidak tahu akar permasalahannya. Mengingatkan tapi juga menyebalkan. Kesalahan fatal dari miss interpreter yang menyebabkan saya berpikir, apakah harus begitu naif-nya. Kegagalan tuch harus dievaluasi, dimana salahnya dan apa penyebabnya bukan untuk direnungin hikmat-nya.

Saat ini kegagalan menimbulkan permasalahan yang terjadi, saat itu tidak pernah berpikir bahwa efek domino selalu hadir dalam kehidupan kita. Pengaruh dari suatu yang kita kerjakan akan mempengaruhi kerjaan yang lain. Semua ini adalah permasalahan sederhana yang menyebabkan munculnya masalah besar.

Kalau dilihat satu persatu, permasalahan pagi hari, dimana tidak ada kerjaan, adalah karena salah penempatan dimana kompetensi yang sebenarnya tidak muncul karena tidak pada posisi yang tepat, namun hal ini tidak bisa dihindari. Kesalahan akibat meremehkan someone, menyebabkan harus pindah posisi. Someone yang tidak pernah dilihat ternyata merupakan master mind dari semua kejadian yang menjadikan harus pindah. Someone ini pula yang mengatur agar project yang sedang dikerjakan bisa diambil alih, diatur sedemikian rupa sehingga bisa dialihkan secara halus kedalam tangannya. Setelah itu dia masukan rekanan yang dianggap pantas memberikan benefit untuk diatur memenangkan project ini. Suatu pemikiran yang sangat cerdik, karena kebetulan dia bisa terlibat dalam pengetesan dan pemilihan, seandainya ada aku, tidak mungkin dia bisa mengatur hal tersebut. Suatu pemikiran yang brilian, tidak menghadapi langsung musuh yang kuat. Memang langkah ini sangat tepat, dengan dorongan kebutuhan untuk mendapatkan dukungan politik, dukungan finansial serta mendapatkan kedudukan yang lebih baik, tidak ada masalah untuk menyikat lawan-lawannya. Someone yang begitu baik dimata orang-orang, dibelakangnya merupakan rubah berbulu domba. Cerdik tak terkira, namun memiliki kekejian yang luar biasa.

Cara ini juga memberikan benefit lain, yaitu mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, karya orang lain diakui sebagai karyanya, entah sadar atau tidak, kemudian mengatur agar lawan-lawan politiknya untuk mendapatkan kedudukan disingkirkan satu demi satu mengandalkan kedekatan dengan Number 1. Suatu karya yang sangat luar biasa dan diluar dugaan, namun sangat efektif.

Inilah sumber kegagalan yang terjadi kemarin, saat kita sedang berada dipuncak, terkadang kita tidak pernah mengamati bawah atau samping kita. Kecenderungan untuk selalu melihat keatas agar bisa mencapai puncak tersebut menyebabkan kita tidak waspada, saat dijatuhkan orang lain.

Berpikir positif adalah suatu hal yang perlu dilakukan saat ini, bila kita merasa bahwa kita punya potensi, maka beberapa pelajaran berharga ini perlu disadari bahwa, saat kita mengarahkan mata kita menuju puncak, perlu disadari bahwa dibawah kita atau samping kita akan siap menerkam menjatuhkan kita. This is life and life is competition.

Oktober 5, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Warung Kopi | | No Comments Yet

4 Perubahan TELKOM

Dalam melaksanakan 10 strategic initiative yang telah dilaunching pada tanggal 27 Sepetember 2007, kemudian disertai dengan lahirnya CSS 2008 Roadmap, maka TELKOM akan melakukan 4 perubahan yaitu, pertama perubahan portofolio bisnis dari single play menjadi multiplay yang tidak sekedar telekomunikasi tapi TIME (Telecommunication Information Multimedia and Entertainment). Kedua adalah perubahan warna bisnis  yaitu memasarkan produk-produk fixed phone tetapi juga Broadband berbasis NGN dan untuk RKAP 2008 agar revenue untuk Non POTS seperti Flexi, Speedy prosinya lebih diperbesar. Ketiga, perubahan sistem. Dalam rangka mengikuti perkembangan teknologi, TELKOM harus merubaha pelayanan yang konvensional menjadi lebh profesional dan high tech. Dukungan INFUSION bagi backroom akan mengubah sistem pelyaanan kepada pelanggan, seperti TENOS (Telkom Network Operation System); TIBS (Telkom Integrated Billing System); TCARE (Telkom Customer Care). Dan keempat adalah perubahan perilaku pelayanan sumber daya manusia TELKOM  karena perusahaan telah menyediakan alat-alat yang canggih sehingga SDM TELKOM dituntut lebih cepat dan lebih peduli dalam melayani pelanggan. Secanggih apapun basis infrastruktur yang dimiliki TELKLOM apabila tidak ditunjang oleh SDM yang tanggap terhadap permasalahan perusahaan dan pelanggan maka pelayanan dan bisnis TELKOM tidak akan berhasil. SDM TELKOM bisa membaca dan menjawab kompetisi yang telah bergulir dalam percaturan bisnis telekomunikasi dalam negeri.

Oktober 2, 2007 Ditulis oleh henrisetiawan | Strategi | | No Comments Yet