Tender USO   Leave a comment

Pemerintah mengungkapkan alasan mengapa tender Universal Service Obligation (USO) untuk program telepon pedesaan selalu ditunda. Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh, mengibaratkan rencana pembangunan fasilitas telepon di desa-desa layaknya kendaraan angkutan umum pemerintah dari kota.

Ia mengatakan, telepon ke desa bukan hanya untuk kebutuhan layanan suara, tapi juga data. Oleh sebab itu, lanjutnya, akan disertakan pula program Community Access Point (CAP) sehingga desa menjadi telecenter.

“Namun, desa tidak akan jadi bertambah makmur karena warganya hanya akan menghabiskan uang untuk telepon-teleponan. Tender USO terhambat karena sedang dikoordinasikan dengan seluruh departemen demi menuntaskan kemiskinan di desa-desa,” urainya di hadapan para pengusaha TIK yang tergabung dalam Komite Tetap Kadin Telematika, di Wisma Kadin, Selasa petang (31/7/2007).

Menurut Nuh, dari seluruh departemen pemerintah, total dana yang dialokasikan untuk memberantas kemiskinan bisa mencapai Rp 51 triliun. Seluruh dana tersebut, lanjutnya, dipersiapkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan dengan skema yang terbaik.

“Pembangunan telepon cuma jadi vehicle (kendaraan pengangkut – red.) saja. Jadi, selain telepon, (program pengentasan kemiskinan – red.) yang lain bisa ikut masuk juga. Tujuannya demi pemberdayaan masyarakat,” jelas Nuh.

Pemerintah akan membatalkan dan mengulang kembali proyek penyediaan layanan telepon umum pedesaan atau Universal Service Obligation (USO) bila kuota peserta tender tidak terpenuhi.

“Minimal harus ada tiga perusahaan penyelenggara jaringan atau jasa telekomunikasi yang ikut dan menjadi pemenang dalam seleksi tender USO. Kalau tidak, terpaksa kita batalkan dan mengulangnya kembali,” ungkap Kabag Umum dan Humas Ditjen Postel, Gatot S. Dewa Broto kepada detikINET, Senin (24/9/2007).

Sebelum mencapai tahapan seleksi, peminat proyek USO harus melewati rintangan prakualifikasi terlebih dahulu. Pendaftaran untuk prakualifikasi pun sejatinya telah dibuka sejak 21 September hingga 2 Oktober 2007.

Hingga kini telah tercatat empat perusahaan penyelenggara telekomunikasi yang mendaftarkan diri untuk prakualifikasi, yakni PT Telkom, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Citra Sari Makmur dan PT Powertel.

Gatot menuturkan, keempat calon peserta prakualifikasi tersebut berminat untuk mengikuti lelang di semua blok yang ditawarkan oleh Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (BTIP) Ditjen Postel.

“Kecuali hanya PT Powertel yang tidak bermaksud mengikuti lelang tersebut untuk blok Wilayah Pelayanan Universal telekomunikasi IV Kalimantan Barat dan Kalimantan tengah,” ujarnya.

Pengerjaan proyek USO di 38.741 desa itu akan dibagi dalam 11 blok geografis. Total anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan selama lima tahun itu memiliki nilai pekerjaan sebesar Rp 1,1 triliun.

Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merupakan wilayah yang akan mendapatkan porsi terbanyak dari program USO ini karena memiliki 10.520 desa dengan nilai pekerjaan tahap pertama sebesar Rp 358,339 miliar.

Posted September 24, 2007 by K-K-K in Warung Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: